Al-Ma'un
Abdul El‑Sayed Raih Kursi Senat Michigan, Menjadi Muslim Pertama di Senat AS

Abdul El‑Sayed Raih Kursi Senat Michigan, Menjadi Muslim Pertama di Senat AS

Di dini hari Rabu, 4 November 2026, Abdul El‑Sayed mengumumkan kemenangan atas calon Republik Mike Rogers di Detroit, menjanjikan perjalanannya ke Washington sebagai senator pertama yang beragama Islam dalam sejarah Amerika Serikat.

Proyeksi dan Persentase Suara

Menurut perkiraan Associated Press, El‑Sayed, 42‑tahun, meraih 51,9 % suara sementara Rogers berada di 46,1 % setelah sekitar 85 % total suara dihitung. Angka tersebut masih bersifat sementara; hasil resmi menunggu verifikasi oleh otoritas pemilu Michigan.

Latar Belakang Kursi Senat

Kursi ini terbuka setelah Senator Demokrat Gary Peters mengumumkan pensiun. Rogers, mantan anggota DPR dan mantan agen FBI, sebelumnya kalah tipis melawan Demokrat Elissa Slotkin pada pemilihan Senat 2024, sementara Donald Trump memenangkan presiden di negara bagian yang sama. Kemenangan El‑Sayed memastikan kedua kursi Senat Michigan tetap dikuasai Demokrat.

Dari Dinas Kesehatan ke Panggung Nasional

El‑Sayed lahir di Michigan dari orang tua imigran Mesir. Ia menamatkan studi kedokteran di Universitas Columbia dan meraih doktor di bidang kesehatan masyarakat dari Universitas Oxford. Pada 2015, ia memimpin Departemen Kesehatan Detroit yang tengah bangkit dari kebangkrutan, lalu menjabat di Departemen Kesehatan Kabupaten Wayne (2022‑2025) setelah gagal meraih nominasi gubernur Demokrat 2018.

Agenda Kampanye Utama

Platformnya berpusat pada Medicare for All, yakni penggantian sistem asuransi campuran dengan jaminan kesehatan universal yang dikelola pemerintah federal. Ia juga menekankan penurunan biaya hidup dan pembatasan dana korporasi dalam politik. Dukungan awal datang dari Senator independen Bernie Sanders dan anggota DPR Alexandria Ocasio‑Cortez, yang turut berkeliling bersama El‑Sayed menjelang pemungutan suara.

Primari dan Pengaruh Kelompok Luar

Dalam pemilihan pendahuluan Agustus, El‑Sayed mengungguli anggota DPR Haley Stevens selisih satu poin persentase. Kelompok-kelompok eksternal menghabiskan hampir 60 juta dolar AS untuk kontestasi tersebut, termasuk hampir 30 juta dolar dari AIPAC dan afiliasinya untuk mendukung Stevens, yang kemudian beralih mendukung Rogers dua hari sebelum pemungutan suara.

Kontroversi atas Sikap Terhadap Gaza

El‑Sayed mengkritik bantuan militer AS untuk Israel dan menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai genosida, memicu kecaman dari sebagian komunitas Yahudi Michigan dan menimbulkan serangan terhadap sebuah sinagoge di Detroit. Ia kemudian meminta maaf atas komentar tersebut. Mantan presiden Donald Trump serta Rogers menuduhnya tidak setia kepada Amerika dan mengaitkannya dengan Ikhwanul Muslimin, tuduhan yang dibantah El‑Sayed tanpa bukti.

Makna Kemenangan bagi Partai Demokrat

Proyeksi AP menunjukkan Demokrat berpeluang menguasai mayoritas di Senat dan DPR. Keberhasilan El‑Sayed menjaga kursi Michigan memperkuat posisi progresif dalam perdebatan internal partai menjelang pemilihan presiden 2028, sekaligus menegaskan agenda jaminan kesehatan universal sebagai kunci kemenangan di negara bagian kompetitif.

Sejarah Muslim di Kongres Amerika

Pada 2007, Keith Ellison menjadi anggota Kongres Muslim pertama, mewakili Minnesota di DPR. Sekitar dua dekade kemudian, El‑Sayed akan menulis bab baru sebagai senator Muslim pertama saat dilantik pada Januari 2027. Dalam pidatonya di Detroit, ia mengundang para pendukungnya untuk memanggilnya “senator”.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Asisten AI Muhammadiyah Buka Akses Ribuan Dokumen Tarjih

Asisten AI Muhammadiyah Buka Akses Ribuan Dokumen Tarjih

Muhammadiyah bersiap memperkenalkan ChatHPT, asisten berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk mempermudah akses publik ke putusan, fatwa, serta penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid.

Peluncuran Resmi

Acara peluncuran dijadwalkan bertepatan dengan pembukaan Musyawarah Nasional Tarjih ke-33 yang akan digelar di Universitas Muhammadiyah Surabaya pada Kamis, 5 November 2026.

Latar Belakang dan Tujuan

Sejak lama, dokumen‑dokumen resmi Muhammadiyah berupa kumpulan fatwa, putusan Tarjih, dan tanya‑jawab agama tersedia dalam bentuk cetak maupun digital. Namun, menelusuri informasi yang tepat di antara ribuan halaman memerlukan waktu dan pengetahuan mendalam mengenai letak materi. ChatHPT hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan memungkinkan pengguna mengajukan pertanyaan menggunakan bahasa sehari‑hari, kemudian menampilkan jawaban yang diambil dari sumber asli lengkap dengan referensinya.

Statistik Penggunaan Awal

Menurut Panduan Lengkap ChatHPT edisi November 2026 yang ditulis oleh Ismail Fahmi, platform ini mulai diuji coba pada Agustus 2026. Hingga 2 November 2026, tercatat sebanyak 13.840 pertanyaan masuk, dengan topik salat menempati posisi teratas (2.671 pertanyaan atau 19,3 %).

Basis Pengetahuan

ChatHPT didukung oleh korpus yang terdiri dari 1.153 naskah putusan, fatwa, dan tanya‑jawab, 2.742 konsep fikih serta usul fikih, dan 3.855 entitas meliputi tokoh, perawi, kitab, dan lembaga. Koleksi utama mencakup 836 naskah Fatwa Tarjih, 255 dokumen tanya‑jawab agama, dan 62 himpunan putusan Tarjih.

Fungsi Utama

  • Mesin tanya‑jawab keagamaan yang menyajikan jawaban bersumber dokumen resmi.
  • Perpustakaan digital yang memungkinkan penelusuran arsip Tarjih tanpa harus mengajukan pertanyaan.
  • Pendamping belajar bagi mubaligh, pendidik, dan peneliti.

Kolaborasi Pengembangan

Proyek ini merupakan hasil kerja sama antara Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, serta LabMu yang menangani aspek teknologi pencarian dan integrasi AI.

Rencana Kedepan

Ke depannya, ChatHPT akan memperluas koleksi dokumen, meningkatkan akurasi respons, serta menambahkan materi seperti keputusan Munas terbaru, panduan ibadah, dan fitur khusus untuk kalangan mubaligh, pendidik, serta peneliti.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Asisten AI Muhammadiyah yang Membantu Memahami Fatwa Tanpa Mengganti Kewenangan Ulama

Asisten AI Muhammadiyah yang Membantu Memahami Fatwa Tanpa Mengganti Kewenangan Ulama

Dalam rangka Pembukaan Musyawarah Nasional Tarjih ke-33 di Universitas Muhammadiyah Surabaya pada 5 November 2026, Muhammadiyah memperkenalkan ChatHPT, sebuah asisten berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk mempermudah publik dalam menelusuri keputusan dan fatwa Majelis Tarjih.

ChatHPT menegaskan bahwa teknologi ini hanya berfungsi sebagai penunjang pencarian referensi keagamaan, bukan sebagai mufti digital yang memiliki otoritas mengeluarkan fatwa baru.

Menurut Panduan Lengkap ChatHPT edisi November 2026, layanan ini membantu pengguna menemukan, memahami, dan merangkum keputusan keagamaan yang telah ada, sementara pertanyaan yang memerlukan penilaian khusus tetap diarahkan ke Majelis Tarjih atau ulama berwenang.

Mekanisme Kerja Berbasis Retrieval‑Augmented Generation

Secara teknis, sistem mengadopsi pendekatan Retrieval‑Augmented Generation (RAG). AI pertama‑tama menelusuri koleksi dokumen resmi Tarjih yang telah diindeks, lalu menyusun jawaban berdasarkan materi yang relevan.

Proses dimulai saat pengguna mengajukan pertanyaan; sistem mengidentifikasi kata kunci, mencari dalam basis data, membaca bagian yang sesuai, dan akhirnya menghasilkan respons lengkap yang dilengkapi dengan dalil, catatan, kesimpulan, serta tautan ke naskah sumber.

keputusan Munas atau Muktamar yang telah ditanfidzkan mendapat prioritas tertinggi, diikuti oleh fatwa, dan terakhir oleh rubrik tanya‑jawab agama.

Contoh dalam panduan memperlihatkan pertanyaan tentang salat jenazah seorang koruptor. Karena tidak ada fatwa khusus, sistem mengaitkan pertanyaan dengan keputusan dan argumentasi Tarjih yang relevan, menyimpulkan bahwa jenazah Muslim yang berdosa tetap harus disalatkan.

Jawaban tersebut bukan fatwa baru, melainkan rangkuman referensi yang ada; pengguna disarankan memeriksa sumber dan mengonfirmasi kepada Majelis Tarjih bila memerlukan keputusan otoritatif.

Untuk memastikan kualitas, ChatHPT dilengkapi mekanisme umpan balik yang memungkinkan pengguna menilai atau melaporkan jawaban yang dirasa kurang tepat. Tim pengembang kemudian dapat memperbaiki algoritma pencarian, instruksi, maupun pengolahan dokumen, sementara isu substantif tetap dirujuk ke Majelis Tarjih.

Pengembangan ChatHPT melibatkan kolaborasi antara Majelis Tarjih, Tajdid PP Muhammadiyah, Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, serta LabMu, yang masing‑masing menangani otoritas keilmuan, pengelolaan dokumentasi digital, dan pengembangan teknologi.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Indikasi Makar Masih Diperiksa dalam Kasus Dugaan Penyadapan

Indikasi Makar Masih Diperiksa dalam Kasus Dugaan Penyadapan

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menyampaikan bahwa petunjuk yang mengarah pada potensi makar masih dalam tahap penyelidikan lebih lanjut, sehingga pasal makar belum dapat diterapkan.

Polisi Selidiki Tujuan Penyadapan

Menurut Yusril, penyidik tengah menelaah dua pasal dalam Kitab Undang‑Undang Hukum Pidana (KUHP) yang mungkin relevan. Pasal 191 mengatur makar yang ditujukan terhadap presiden atau wakil presiden, termasuk upaya menghalangi mereka menjalankan tugas. Sementara itu, Pasal 193 mengatur makar dengan tujuan menggulingkan pemerintah.

Untuk menentukan apakah kasus ini masuk dalam salah satu kategori tersebut, penyidik memeriksa tujuan penyadapan serta identitas pihak‑pihak yang diduga menjadi sasaran, yang meliputi Presiden, sejumlah menteri, tokoh politik, dan tokoh masyarakat.

"Kami harus menilai secara objektif tanpa prasangka. Fokus utama adalah mengungkap fakta terkait maksud dan tujuan penyadapan," tegas Yusril.

Yusril menambahkan bahwa penyidik telah mengamankan dua alat bukti yang cukup untuk menetapkan tersangka atas dugaan penyadapan serta pelanggaran Undang‑Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Penetapan tersangka dan langkah penahanan akan dilakukan sesuai prosedur hukum acara pidana.

Pengawasan Perangkat Penyadapan

Yusril menyoroti bahwa lembaga‑lembaga negara seperti Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memiliki wewenang penyadapan berdasarkan peraturan yang berlaku, namun pelaksanaannya harus mengikuti mekanisme pengawasan internal masing‑masing.

"Jika penyadapan dilakukan tanpa otorisasi resmi dari atasan yang berwenang, tindakan tersebut jelas melanggar hukum," ia menegaskan.

Ia menilai perlunya evaluasi kembali penggunaan perangkat penyadapan serta penataan ulang prosedur, termasuk peran lembaga keamanan siber dan persandian dalam mencegah penyalahgunaan. Kemenko Kumham Imipas menyatakan situasi secara umum tetap terkendali.

Yusril mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menunggu hasil penyidikan sebelum mempercayai rumor terkait sasaran penyadapan atau pihak yang diduga terlibat.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Keadilan dan Layanan Publik dalam Kacamata Muhammadiyah

Keadilan dan Layanan Publik dalam Kacamata Muhammadiyah

Arif Rahman, anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta, menyampaikan bahwa nilai‑nilai Islam seharusnya tercermin dalam layanan publik, seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kemudahan bagi masyarakat.

Pengamatan di Cina

Dalam ceramahnya di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Ahad, 1 November, Arif mengisahkan kunjungan ke Cina bersama sepuluh rekan pada April lalu. Di sana, ia menyaksikan praktik transportasi kereta cepat yang menekankan keadilan dan tanggung jawab.

Salah satu insiden terjadi ketika dua rekan terlambat naik kereta. Setelah melaporkan kejadian kepada petugas, mereka langsung dipindahkan ke jadwal keberangkatan berikutnya tanpa dikenakan biaya atau denda.

Di lain kesempatan, seorang peserta perjalanan menerima notifikasi pengembalian dana sebesar 45 yuan. Penjelasan mengungkap bahwa selisih harga tiket muncul karena jadwal pengganti memiliki tarif lebih rendah, dan uang tersebut otomatis dikreditkan ke aplikasi tanpa perlu mengajukan refund.

Makna Islam dalam Layanan

Arif menilai bahwa mekanisme otomatis tersebut mencerminkan prinsip Islam tentang keadilan – memberikan hak secara setara tanpa beban tambahan. Ia menekankan bahwa integrasi jaringan transportasi publik di Cina, termasuk hubungan antara kereta bawah tanah dan moda lain, meningkatkan mobilitas serta efisiensi biaya.

Menurutnya, pengalaman ini mengajarkan umat untuk tidak menutup mata terhadap kebaikan yang muncul dari berbagai negara, melainkan mengambil pelajaran yang relevan. Ia mengaitkan hal ini dengan konsep amar makruf nahi munkar, yakni mengajak pada kebaikan sekaligus menolak kemungkaran, termasuk penyebaran informasi palsu yang dapat memecah belah masyarakat.

Arif mengingatkan setiap individu memiliki tanggung jawab untuk mempromosikan nilai‑nilai baik sesuai kemampuan masing‑masing, agar kesalahan tidak dianggap biasa.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Risiko Gibah dan Fitnah di Ujung Jari

Risiko Gibah dan Fitnah di Ujung Jari

Perkembangan teknologi informasi mengubah cara manusia berinteraksi, namun kemudahan penyebaran pesan lewat platform online juga membuka peluang bagi perilaku menyebarkan gosip, fitnah, dan kebencian.

Pesan Etika dari Pimpinan Muhammadiyah DI Yogyakarta

Arif Rahman, anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta, menyampaikan hal tersebut dalam ceramah yang diadakan di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Ahad, 1 November.

"Rasulullah SAW pernah memperingatkan bahaya ucapan yang memecah belah dan merusak hubungan antarmanusia," ujar Arif.

Ia mengutip sebuah hadis yang menyebutkan dua orang yang akan menerima siksa kubur, salah satunya karena kebiasaannya menyebarkan namimah atau mengadu domba.

Menurutnya, istilah gibah merujuk pada pembicaraan negatif tentang sesama, meskipun isi percakapan itu benar, sedangkan fitnah adalah penyebaran informasi yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

"Jika fakta memang demikian, namun orang yang dibicarakan tidak senang, itu gibah. Jika tidak dapat dipastikan kebenarannya, itu fitnah," jelasnya.

Arif menekankan bahwa praktik tersebut kini semakin mudah terjadi melalui media digital, termasuk podcast dan jejaring sosial. Ia juga mengingatkan adanya kelompok terorganisir yang menyebarkan berita palsu demi memperoleh imbalan.

Perubahan media komunikasi menimbulkan tantangan baru bagi etika berbicara. Dulu ada pepatah "mulutmu harimaumu", kini ia menambahkan, "jari‑jari yang mengetik juga dapat menjadi harimaumu."

"Di era digital, orang yang menggosip atau menyiarkan fitnah tidak lagi melakukannya secara lisan, melainkan lewat jari‑jari mereka," ujar Arif.

Ia mengajak jamaah untuk lebih selektif sebelum menyebarkan informasi, menekankan pentingnya verifikasi fakta dan pertimbangan dampak sosial.

Arif juga mengaitkan etika berkomunikasi dengan kualitas keimanan, mengutip hadis yang menyarankan orang beriman untuk berkata baik atau memilih diam. Ia menegaskan bahwa keimanan harus tercermin dalam kemampuan membedakan antara yang baik dan yang buruk, serta mengimplementasikan prinsip amar makruf nahi munkar sesuai kemampuan masing‑masing.

"Jika kita melihat kemungkaran, cegahlah sesuai kapasitas. Jika tak mampu, beri teguran lisan. Jika masih tak mampu, setidaknya hati harus menyadari kesalahannya," tuturnya.

📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Muhammadiyah Perkuat Kelompok Tani Hutan di Bengkulu: 12.500 Bibit untuk Keberlanjutan dan Kesejahteraan

Muhammadiyah Perkuat Kelompok Tani Hutan di Bengkulu: 12.500 Bibit untuk Keberlanjutan dan Kesejahteraan

Universitas Muhammadiyah Bengkulu bersama Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah memulai kolaborasi dalam rangka program FOLU Net Sink 2030 untuk memperkuat Kelompok Tani Hutan (KTH) di wilayah Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Bengkulu.

Kerjasama ini menitikberatkan pada pembangunan kelembagaan KTH, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penerapan pengelolaan hutan yang berkelanjutan demi melindungi lingkungan dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.

Pada 1 November, serangkaian kegiatan sosialisasi diadakan dan melibatkan warga, anggota KTH, serta perangkat desa Taba Teret dan Tanjung Heran yang berada di sekitarnya.

Direktur KHDTK UM Bengkulu, Ahmad Aminudin, mengajak warga untuk melihat hutan sebagai sumber kehidupan yang dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab tanpa merusak ekosistem.

"Kita dapat mengambil manfaat dari hutan tanpa mengorbankan kelestariannya. Aktivitas kita harus mendukung pelestarian, karena hutan bukan sekadar untuk dinikmati hari ini, melainkan investasi bagi generasi mendatang," ujar Prof. Amin.

Ia menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan KHDTK diukur tidak hanya dari kondisi hutan, melainkan juga dari kemampuan masyarakat memperoleh keuntungan ekonomi yang berkelanjutan.

Rencana Penanaman 12.500 Bibit Produktif

Sebagai bagian dari FOLU Net Sink 2030, proyek ini menargetkan penanaman 12.500 bibit pohon produktif pada lahan seluas 80 hektar, meliputi jenis aren, alpukat, durian, petai, serta tanaman produktif lainnya.

Pendanaan didapatkan melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dengan skema kerjasama Norwegia, yang mendukung upaya penurunan emisi dari sektor kehutanan dan perubahan penggunaan lahan.

Penanaman tidak hanya bertujuan memperbaiki tutupan vegetasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi jangka panjang bagi penduduk setempat, melibatkan mereka mulai dari penanaman, perawatan, hingga pemanfaatan hasil panen.

Dengan pendekatan ini, bibit yang ditanam diharapkan menjadi aset ekologis sekaligus sumber penghidupan berkelanjutan bagi generasi berikutnya.

Jihadul Mubarok, perwakilan Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, menegaskan bahwa semangat kebersamaan didasari nilai khairunnas anfa’uhum linnas—menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi sesama.

Ia menambahkan, peran Muhammadiyah bukan untuk mengambil alih pengelolaan hutan, melainkan mendukung komunitas lokal agar tetap berdaya guna dan berkelanjutan.

Organisasi dan institusi berfungsi sebagai fasilitator untuk menghasilkan manfaat nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan warga.

Kegiatan tersebut juga menampilkan narasumber yang membahas strategi penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas, serta pengelolaan hutan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar melalui model pengelolaan hutan yang inklusif.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Peran Aktif Masjid dalam Meningkatkan Kesejahteraan Tetangga: Insight dari Talqis Nurdianto

Peran Aktif Masjid dalam Meningkatkan Kesejahteraan Tetangga: Insight dari Talqis Nurdianto

Masjid tidak sekadar menjadi tempat beribadah; ia juga memikul tugas sosial yang harus diwujudkan lewat kepedulian terhadap warga sekitar. Keberadaan sebuah masjid diharapkan mampu menumbuhkan empati, membantu keluarga yang membutuhkan, serta memperkuat jaringan sosial di lingkungannya.

Tanggung Jawab Sosial Masjid

Pembicara sekaligus anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, menyampaikan gagasannya dalam sebuah kajian yang digelar di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, pada Kamis, 29 Oktober. Ia menegaskan bahwa sebuah masjid yang dinamis dan sejahtera akan memicu rasa peduli terhadap kondisi warga sekitar.

Talqis menekankan pentingnya pengurus dan jamaah masjid mengenal lingkungan terdekat, termasuk mengetahui siapa saja yang sedang sakit, mengalami tekanan ekonomi, atau sekadar membutuhkan perhatian.

Silaturahmi Langsung sebagai Kunci

Hubungan antara masjid dan masyarakat, kata Talqis, harus dibangun lewat silaturahmi tatap muka. Pengurus dapat mengunjungi rumah warga, menyapa mereka, serta menciptakan komunikasi yang membuat masyarakat merasakan manfaat nyata dari keberadaan masjid.

"Masjid harus memberi dampak. Tidak boleh hanya menjadi bangunan megah yang tak dirasakan manfaatnya oleh orang di sekitarnya," tegasnya.

Transparansi dan Pemberdayaan Ekonomi

Ia pula menekankan pentingnya keterbukaan dalam pengelolaan dana serta program-program pemberdayaan. Masjid harus berfungsi sebagai ruang terbuka yang dapat diakses oleh keluarga yang tengah menghadapi kesulitan, sehingga mereka memperoleh bantuan konkret.

Talqis mengaitkan peran masjid dengan gerakan filantropi Muhammadiyah, khususnya melalui Lazismu. Bantuan zakat, menurutnya, sebaiknya diarahkan pada upaya pemberdayaan penerima sehingga mereka dapat mencapai kemandirian ekonomi.

Contohnya, seorang mustahik dapat dibina hingga memiliki kemampuan finansial yang lebih baik dan pada akhirnya menjadi muzaki yang berkontribusi kembali.

Dimensi Spiritual dan Etika

Dalam menyampaikan pesan, Talqis mengutip hadis tentang orang yang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, namun juga tercatat melakukan kezaliman seperti mencaci, memfitnah, atau merampas harta. Pahala kebaikannya kemudian dialihkan kepada mereka yang pernah dizaliminya.

“Kita tidak boleh menganggap ibadah sudah cukup tanpa memperhatikan kesejahteraan orang lain,” jelasnya.

Aksi Nyata di Lapangan

Sebagai ilustrasi sederhana, Talqis menyebutkan bantuan penyediaan air bersih bagi masyarakat Gunungkidul yang membutuhkan air untuk wudhu dan keperluan sehari-hari.

Menurutnya, pembinaan masyarakat idealnya berlandaskan empat pilar: iman, ibadah, akhlak, dan kepedulian sosial. Keempat pilar ini harus berjalan beriringan agar keagamaan menghasilkan manfaat yang luas.

Memperkuat Fokus Lokal di Tengah Gerakan Global

Walaupun Muhammadiyah memiliki program kemanusiaan hingga ke Afrika, Talqis mengingatkan agar tidak melupakan tanggung jawab terhadap komunitas di sekitar masjid dan tempat tinggal masing‑masing.

Ia mengajak jamaah memulai perubahan dari diri sendiri dan keluarga, kemudian merambah ke lingkungan yang lebih luas, serta institusi terkait. Proses tersebut memerlukan ilmu, keteladanan, budaya tabayun, dan semangat kerja sama.

Evaluasi Dampak sebagai Ukuran Keberhasilan

Talqis menutup dengan menekankan pentingnya evaluasi rutin atas setiap kegiatan masjid. Keberhasilan dakwah, bagi beliau, terletak pada perubahan yang dapat dirasakan oleh masyarakat: meningkatnya rasa kepedulian, keadilan, dan kesejahteraan bersama.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Keharmonisan Ibadah dan Akhlak Sosial: Tantangan Baru bagi Umat Islam

Keharmonisan Ibadah dan Akhlak Sosial: Tantangan Baru bagi Umat Islam

Pengamalan keimanan tidak boleh terpisah dari perilaku sehari-hari; kesalehan yang tampak dalam ibadah seharusnya disertai kejujuran, rasa amanah, kepedulian terhadap sesama, serta sikap hormat.

Pembahasan di Masjid KH Sudja

Pembicaraan ini dipaparkan oleh Talqis Nurdianto, anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam sebuah kajian yang berlangsung di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, pada Kamis 29 Oktober.

Talqis menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki beragam sarana dakwah—mulai dari masjid, pengajian, lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, layanan kesehatan, Lazismu, hingga program kemanusiaan yang dikelola oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC)—yang dirancang untuk menciptakan masyarakat Islam yang sesungguhnya.

Ia menyoroti pentingnya menggerakkan semua aset tersebut secara bersamaan. Pengajian, misalnya, tidak hanya menjadi ruang belajar agama, melainkan juga arena pembentukan karakter. Begitu pula institusi pendidikan yang mengajarkan nilai‑nilai Islam wajib memastikan nilai‑nilai itu terintegrasi dalam kehidupan muridnya.

“Islam kita telah berkembang secara kuantitatif; kini tantangannya adalah meningkatkan kualitas dengan menginternalisasi nilai‑nilai agama dalam perilaku nyata,” ujarnya.

Talqis mengajak jamaah melakukan muhasabah pada tiga dimensi utama kehidupan beragama. Pada aspek akidah, seorang Muslim harus menegaskan keesaan Allah dan menyingkirkan segala bentuk kebergantungan pada praktik mistik atau syirik.

Dalam ranah ibadah, ia mengingatkan bahwa shalat dan ritual keagamaan seharusnya menumbuhkan rasa jujur dan bertanggung jawab. Bahkan orang yang tekun beribadah perlu menilai diri apakah masih mengambil hak orang lain, mengingkari amanah, atau berkata tidak jujur.

Berbicara tentang akhlak, Talqis menyoroti kebiasaan mencela, menyindir, dan menyebarkan ucapan negatif di media sosial. Seorang Muslim harus memastikan bahwa setiap perkataan tidak menimbulkan rasa tidak aman bagi orang lain.

“Saat kita berbicara, apakah orang di sekeliling kita merasa terlindungi? Hindari kata‑kata yang mengandung ejekan, celaan, atau cemoohan,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya budaya tabayun—memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya—sebagai bagian dari semangat keagamaan yang berlandaskan pengetahuan.

Talqis menyinggung bahwa perbedaan organisasi atau pilihan politik kerap menggerogoti persaudaraan. Perbedaan seharusnya dihadapi dengan adab, bukan menjadi pemicu permusuhan di antara sesama Muslim.

Menurutnya, keberhasilan dakwah dapat diukur dari perubahan konkret dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, kepedulian sosial, termasuk pemberdayaan ekonomi, harus menjadi unsur integral keagamaan, agar penerima zakat dapat bertransformasi menjadi pemberi zakat di masa depan.

“Bagaimana kita membantu orang menjadi mandiri? Seseorang yang kini menjadi mustahik dapat, dalam beberapa tahun, berubah menjadi muzaki setelah mencapai kemandirian finansial,” pungkasnya.

Secara keseluruhan, pesan yang disampaikan menekankan bahwa kuantitas keanggotaan tidak cukup; kualitas akhlak, integritas, dan kontribusi sosial menjadi tolok ukur sejati keberhasilan sebuah gerakan keagamaan.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id