Nasyiatul Aisyiyah Investasi Kaderisasi Lewat Latihan Instruktur Berstandar Nasional

Nasyiatul Aisyiyah Investasi Kaderisasi Lewat Latihan Instruktur Berstandar Nasional

  


Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) terus berkomitmen menjalankan perannya dalam mewujudkan perempuan muda Islam yang berkemajuan dan berdaya saing. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembinaan instruktur yang berkualitas lewat kegiatan Latihan Instruktur Nasyiatul Aisyiyah (LINA).

PPNA menggelar LINA akselerasi bertemakan “Membangun Kompetensi Instruktur untuk Penguatan Kaderisasi Berkelanjutan” yang diikuti oleh para anggota pimpinan. Pelatihan instruktur ini menjadi momentum penting, mengingat peranan instruktur sebagai garda terdepan dalam mengawal pelatihan dan pengkaderan Nasyiah.

“Sehingga kalau instrukturnya sudah terstandarisasi, pelatihan-pelatihannya otomatis juga akan sama kualitasnya,” ujar Nunung Damayanti selaku Mentor of Training LINA pada Jum’at (2/1). 

Disamping LINA merupakan persyaratan wajib administrasi bagi para pimpinan Nasyiah. Program LINA adalah bentuk investasi jangka panjang bagi Nasyiah dalam menyiapkan calon-calon instruktur baru, yang mana saat ini jumlahnya masih terbatas. Sehingga regenerasi menjadi sebuah kebutuhan mendesak. 

“Jadi ini sekaligus sebagai regenerasi sehingga nanti saat pergantian pimpinan sudah tidak ada lagi alasan tidak ada instruktur begitu,” tambah Ketua Bidang Kader PPNA tersebut. 

Sementara Ketua Umum PPNA Ariati Dina menilai kegiatan LINA sebagai upaya Nasyiah dalam memberikan ruang tumbuh yang aman bagi calon instruktur muda dalam belajar dan menyampaikan gagasan secara terbuka. Tanpa adanya hirarki yang menghalangi. 

“Tapi sebenarnya kita di sini dalam proses yang berdiri sama tinggi, duduk sama rendah,”ujar Ariati.

Menurutnya, keinginan untuk terus belajar dan tumbuh merupakan salah ciri dari perempuan muda berkemajuan. Meskipun dalam prosesnya menuntut banyak pengorbanan, kesabaran, ketekunan, dan kejernihan berpikir. 

Diakhir, Ariati menegaskan harapannya agar program LINA mampu melahirkan instruktur baru yang tidak hanya unggul secara teknis. Tetapi juga matang secara ideologis, mental, dan memiliki integritas yang tinggi. Karena sejatinya, para Instruktur inilah yang akan menjadi motor penggerak kaderisasi Nasyiatul Aisyiyah. 

Sumber Berita:muhammmadiyah.or.id

Bicara Demokrasi Tak Sekadar Prosedur, tetapi Pemberdayaan Masyarakat

Bicara Demokrasi Tak Sekadar Prosedur, tetapi Pemberdayaan Masyarakat

 


 Demokrasi tidak bisa dilepaskan dari ikhtiar pemberdayaan masyarakat. Partisipasi, kemandirian, subjek, hingga integritas menjadi fondasi supaya berdampak sebenar-benarnya bagi kehidupan masyarakat.

Hal ini disampaikan Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, M. Nurul Yamin dalam Refleksi Akhir Tahun & Bedah Buku di Aula Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta pada Jumat (19/12).

Dalam buku yang dibedah, “Sengkarut Sengketa Pilkada: Potret Penyelesaian Sengketa Diskualifikasi Calon Kepala Daerah”, Yamin menyebut jika inti bukunya, demokrasi, berkaitan erat dengan pemberdayaan masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat itu sejatinya adalah upaya untuk mengangkat potensi masyarakat, serta memiliki spirit untuk menjadikan warga sebagai subjek untuk mengatasi persoalan, bukan malah memposisikannya sebagai bagian dari masalah.

“Pemberdayaan masyarakat sejatinya adalah upaya untuk mengangkat dan mengungkit potensi masyarakat agar memiliki nilai spirit partisipasi tidak apatis, memiliki spirit untuk menjadikan subyek untuk mengatasi masalah bukan menjadi bagian dari masalah,” tutur Yamin.

Kegiatan bedah buku ini turut mengundang sejumlah narasumber pakar. Di antaranya adalah Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayuda, Ketua KPU RI Mochammad Afifuddin, Bendahara Umum MPM PP Muhammadiyah Nasrullah, Akademisi FH UI dan Pembina Perludem Titi Anggraini, dan Pakar Hukum Tata Negara Zainal Arifin Mochtar.

Penulis buku Irvan Mawardi menjelaskan, karya tersebut merupakan buku kelimanya yang membahas Pemilu dan Pilkada. Ia mengangkat tema sengketa dan diskualifikasi calon kepala daerah karena ruang peradilan, menurutnya, memiliki keterbatasan dalam memperdebatkan putusan. 

 Demokrasi tidak bisa dilepaskan dari ikhtiar pemberdayaan masyarakat. Partisipasi, kemandirian, subjek, hingga integritas menjadi fondasi supaya berdampak sebenar-benarnya bagi kehidupan masyarakat.

Hal ini disampaikan Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, M. Nurul Yamin dalam Refleksi Akhir Tahun & Bedah Buku di Aula Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta pada Jumat (19/12).

Dalam buku yang dibedah, “Sengkarut Sengketa Pilkada: Potret Penyelesaian Sengketa Diskualifikasi Calon Kepala Daerah”, Yamin menyebut jika inti bukunya, demokrasi, berkaitan erat dengan pemberdayaan masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat itu sejatinya adalah upaya untuk mengangkat potensi masyarakat, serta memiliki spirit untuk menjadikan warga sebagai subjek untuk mengatasi persoalan, bukan malah memposisikannya sebagai bagian dari masalah.

“Pemberdayaan masyarakat sejatinya adalah upaya untuk mengangkat dan mengungkit potensi masyarakat agar memiliki nilai spirit partisipasi tidak apatis, memiliki spirit untuk menjadikan subyek untuk mengatasi masalah bukan menjadi bagian dari masalah,” tutur Yamin.

Kegiatan bedah buku ini turut mengundang sejumlah narasumber pakar. Di antaranya adalah Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayuda, Ketua KPU RI Mochammad Afifuddin, Bendahara Umum MPM PP Muhammadiyah Nasrullah, Akademisi FH UI dan Pembina Perludem Titi Anggraini, dan Pakar Hukum Tata Negara Zainal Arifin Mochtar.

Penulis buku Irvan Mawardi menjelaskan, karya tersebut merupakan buku kelimanya yang membahas Pemilu dan Pilkada. Ia mengangkat tema sengketa dan diskualifikasi calon kepala daerah karena ruang peradilan, menurutnya, memiliki keterbatasan dalam memperdebatkan putusan.

Sumber Berita:muhammadiyah.or.id

 

Sa’ad Ibrahim: Islam Berkemajuan Meniscayakan Iman, Ilmu, dan Amal

Sa’ad Ibrahim: Islam Berkemajuan Meniscayakan Iman, Ilmu, dan Amal



Sa’ad Ibrahim Islam Berkemajuan Meniscayakan Iman, Ilmu, dan Amal

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cengkareng menggelar Pengajian Hari Bermuhammadiyah yang dirangkaikan dengan peringatan Milad Muhammadiyah ke-113, serta kegiatan khitanan massal bagi 100 anak pada Sabtu (20/12) yang dihadiri Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Saad Ibrahim. Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Uswatun Hasanah, Cengkareng, Jakarta Barat.

Dalam kesempatan tersebut Sa’ad Ibrahim memberikan penguatan ideologis terkait makna Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. Ia menjelaskan bahwa Islam sebagai ad-din merupakan ajaran Allah yang diturunkan kepada seluruh umat manusia, dengan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama.

Sa’ad menekankan pentingnya pemahaman terhadap kualitas hadis sebagai sumber hukum Islam, serta menjelaskan konsep Islam Berkemajuan yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an. Menurutnya, ketaatan kepada Allah SWT akan membawa kemajuan, sedangkan keingkaran akan berujung pada kemunduran.

“Islam Berkemajuan adalah Islam yang mendorong percepatan kebaikan, kemajuan peradaban, serta kemaslahatan umat, sebagaimana dicontohkan dalam berbagai peristiwa yang termaktub dalam Al-Qur’an,”jelasnya.

Sumber Berita:https://muhammadiyah.or.id/2025/12/saad-ibrahim-islam-berkemajuan-meniscayakan-iman-ilmu-dan-amal/

Haedar Nashir Ajak Warga Muhammadiyah Segera Daftar E-KTAM Lewat Aplikasi MASA

Haedar Nashir Ajak Warga Muhammadiyah Segera Daftar E-KTAM Lewat Aplikasi MASA

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir ajak seluruh warga Muhammadiyah segera mendaftar Elektronik Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (E-KTAM).

Saat ini mendaftar atau membuat KTAM semakin mudah, tidak perlu lagi datang ke Kantor PP Muhammadiyah di Jogja atau yang di Jakarta, maupun ke Kantor Pimpinan Wilayah. Karena pendaftaran bisa melalui Aplikasi MASA.

“Bagi yang belum punya KTAM segera urus, sekarang lebih mudah termasuk adik-adik ini. Hanya tinggal pakai aplikasi,” kata Haedar ketika peluncuran E-KTAM di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Sabtu (13/12).

Kemudahan ini diharapkan meningkatkan minat warga Muhammadiyah yang ingin membuat E-KTAM. Sebab tidak perlu repot-repot datang ke kantor Muhammadiyah, sebab pembuatan bisa dilakukan dari mana saja termasuk dari rumah.

“Tidak perlu datang ke kantor untuk membuat E-KTAM, boleh datang ke kantor untuk berkunjung,” imbuhnya.

Selain untuk memudahkan member atau anggota Muhammadiyah yang ingin memiliki validasi berupa E-KTAM, di Aplikasi MASA juga tertera berbagai fitur yang berkaitan dengan materi-materi Kemuhammadiyahan, Al Qur’an, arah kiblat, dan lain sebagainya.

Melalui Aplikasi MASA ini, imbuh Haedar, juga sebagai wadah konsolidasi untuk iuran anggota. Maka jika di aplikasinya sudah ada tagihan, dimohon untuk segera dibayar sesuai dengan tagihan yang tertera.

Sumber Berita:muhammadiyah.or.id

Nilai Sedekah dari Urban Farming

Nilai Sedekah dari Urban Farming

 

    Urban farming. Foto/google


Urban farming menjadi salah satu cara masyarakat perkotaan memenuhi kebutuhan pangan dengan memanfaatkan ruang sempit secara efektif. Praktik ini mencakup penanaman sayuran, buah-buahan, hingga sistem hidroponik dan akuaponik. Di Indonesia, upaya ini semakin digiatkan karena lahan kian terbatas dan harga pangan terus bergerak naik.

Dalam kajian ilmu waris yang digelar di Masjid Raya Cipinang Muara, Jakarta Timur, Selasa (2/12/2025), pakar fikih kontemporer Dr. Erwandi Tarmizi, MA menyampaikan dimensi lain dari urban farming, yaitu nilai sedekah yang terus mengalir.

Ia mengajak jamaah menanam pohon bermanfaat di halaman rumah, terutama pohon buah. “Itu termasuk sedekah terbaik, walaupun kita sedang tidur atau tidak menyadarinya,” ujarnya.

Ia mengutip hadis riwayat Anas ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim tidaklah menanam sebatang pohon atau menabur benih ke tanah, lalu datang burung atau manusia atau binatang memakan sebagian daripadanya, melainkan sesuatu yang dimakan itu merupakan sedekahnya.” (HR Bukhari).

Menurut Dr. Erwandi, pahala tetap mengalir bahkan ketika buah yang tumbuh dipetik orang lain tanpa sepengetahuan pemilik, atau dimakan hewan di sekitar rumah. Urban farming juga tidak memerlukan lahan luas. Pekarangan kecil tetap bisa dimanfaatkan untuk menanam. Halaman yang lapang memudahkan penanaman langsung di tanah melalui bedengan, yang bisa dikombinasikan dengan pot, polybag, atau vertikultur.

Pada halaman sempit, tanaman tetap bisa tumbuh melalui media pot, polybag, atau rak vertikal.Selain memberi suplai pangan bagi keluarga dan menumbuhkan gaya hidup ramah lingkungan, urban farming menjadi bentuk sedekah yang bertahan lama. Semakin banyak warga perkotaan mempraktikannya, ketahanan pangan kota akan semakin kuat, dan manfaat sosialnya menjangkau lebih banyak orang.

Sumber Berita:https://www.jakartamu.com/nilai-sedekah-dari-urban-farming-22635

Masjid Nabawi, Jantung Spiritualitas Umat Islam

Masjid Nabawi, Jantung Spiritualitas Umat Islam

 

DI bawah payung langit Madinah yang belakangan ini bersahabat dengan suhu sejuk berkisar 24-30 derajat Celcius di siang hari dan turun hingga 18 derajat Celcius pada malam hari, jutaan peziarah tetap memadati pelataran yang luas dan interior megah Masjid Nabawi. Angin sepoi-sepoi yang menyapu Kota Nabi tidak hanya meredam terik, tetapi juga seolah membawa bisikan sejarah dari tiap batu dan sudut masjid kedua tersuci dalam Islam ini.

Masjid Nabawi bukan sekadar tempat salat. Ia adalah saksi hidup perjalanan agama Islam, dibangun langsung oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat pada tahun 1 Hijriyah (622 Masehi), tak lama setelah hijrah dari Makkah. Awalnya, masjid ini sangat sederhana: berdinding bata lumpur, bertiang batang kurma, beratap daun, dan berlantai tanah. Luasnya hanya sekitar 1.050 meter persegi. Namun, dari sanalah Nabi memimpin komunitas Muslim pertama, mengajar, memutuskan perkara, dan mengobarkan semangat persaudaraan (ukhuwah).

Sejarah yang Tertanam di Setiap Jengkal

Lokasi masjid dipilih di tempat unta Nabi berhenti.Nabi sendiri turun tangan mengangkut batu dan material. Arah kiblat awal menghadap Baitul Maqdis (Yerusalem), sebelum kemudian dialihkan ke Ka’bah di Makkah. Di dalam kompleks masjid yang asli, terdapat rumah-rumah sederhana Nabi dan sebagian istrinya, yang pintunya langsung menghadap ke pelataran masjid, mencerminkan kesederhanaan dan keterbukaan.

Di dalam masjid ini, tersimpan harta karun spiritual yang tak ternilai: Raudhah, taman surga. Nabi bersabda, “Antara rumahku dan mimbarku terdapat sebuah taman dari taman-taman surga” (HR. Bukhari-Muslim). Area seluas kira-kira 330 meter persegi ini menjadi tujuan utama peziarah untuk beribadah dan berdoa.

Yang paling sentral adalah Makam Nabi Muhammad SAW, yang berada di dalam kompleks masjid, tepat di sebelah timur Raudhah. Di sampingnya, dimakamkan pula dua sahabat utama dan Khalifah Rasyidin, Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Pada perluasan masjid, seluruh area makam ini dilestarikan di dalam bangunan khusus dengan kubah hijau yang ikonik.

Keutamaan yang Membuat Hati Bergetar

Masjid Nabawi memiliki keistimewaan (fadhilah) yang menjadikannya tujuan ziarah dan ibadah. Nabi menyebut salat di Masjid Nabawi lebih utama 1.000 kali daripada salat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram (HR. Bukhari-Muslim). Ibadah di dalamnya juga menjadi sunah dalam perjalanan umrah atau haji.

Selain itu, masjid ini merupakan salah satu dari tiga masjid yang dianjurkan untuk dikunjungi dalam rangka mencari pahala, berdasarkan sabda Nabi, “Tidak boleh melakukan perjalanan (untuk ibadah) kecuali kepada tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha” (HR. Bukhari-Muslim).

Transformasi dan Perkembangan yang Tak Pernah Padam

Perjalanan Masjid Nabawi adalah narasi perkembangan yang terus berdenyut. Dimulai dari perluasan pertama oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan, masjid ini terus diperluas dan diperindah oleh penguasa Muslim sepanjang sejarah, dari Umayyah, Abbasiyah, hingga Utsmaniyah yang memberi kontribusi besar pada arsitektur dan dekorasinya.

Era modern mencatat lompatan terbesar. Di bawah Kerajaan Arab Saudi, serangkaian proyek perluasan raksasa dilakukan. Yang paling monumental adalah perluasan pada masa Raja Abdullah bin Abdulaziz (Proyek Perluasan Raja Abdullah) yang selesai beberapa tahun lalu, menambah kapasitas masjid secara signifikan. Saat ini, luas total Masjid Nabawi mencapai lebih dari 1,2 juta meter persegi, dengan kapasitas menampung lebih dari 2 juta jemaah sekaligus.

Arsitektur masjid memadukan keagungan modern dengan warisan sejarah Ottoman dan Islam klasik. Payung-payung raksasa yang otomatis terbang di pelataran masjid menjadi penanda modernitas, melindungi jemaah dari panas dengan teknologi canggih namun tetap elegan. Sistem pendingin, pencahayaan, suara, dan drainase air hujan dirancang dengan teknologi mutakhir.

Di bawah tanah, terdapat parkir bertingkat yang luas, terowongan penghubung, dan fasilitas logistik yang mendukung jutaan pengunjung. Proyek perluasan juga mencakup pembangunan plaza-plaza terbuka yang teduh dengan lantai berpendingin, memastikan kenyamanan jemaah di segala cuaca.

Keistimewaan yang Tak Tergantikan
Selain Raudhah dan Makam Nabi, masjid ini memiliki mimbar asli Nabi yang kemudian diganti dengan mimbar megah, serta Mihrab Nabawi tempat Imam memimpin salat. Kolam (hosh) yang digunakan untuk berwudu di masa lalu juga menjadi bagian sejarah. Keistimewaan lain adalah keberadaan tiang-tiang (ustuwanah) bersejarah, seperti “ustuwanah Aisyah” dan “ustuwanah at-Taubah”, yang menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting.

Suasana spiritual yang terasa begitu kental, dari lantai bersih yang selalu wangi, tilawah Al-Qur’an yang menggema, hingga kerapian dan ketertiban jemaah dari seluruh penjuru dunia, menciptakan atmosfer ketenangan dan kekhusyukan yang jarang ditemukan di tempat lain.

Kesibukan Spiritual di Bawah Langit yang Bersahabat

Pada hari-hari belakangan ini,menurut laporan Badan Meteorologi dan Lingkungan Saudi (PME), Madinah mengalami cuaca yang relatif stabil dan nyaman memasuki musim semi. Suhu maksimum berkisar 30-32°C dengan sinar matahari penuh, sementara malam hari terasa sejuk dan kering. Kondisi ini sangat mendukung aktivitas ibadah dan ziarah, membuat pelataran masjid ramai hingga larut malam oleh jemaah yang beribadah, membaca Al-Qur’an, atau sekadar menikmati keteduhan dan kedamaian Kota Nabi.

Dengan sejarah yang mengakar, keutamaan yang agung, perkembangan yang visioner, dan suasana spiritual yang menghanyutkan, Masjid Nabawi tetap berdiri sebagai mercusuar Islam, bukan hanya sebagai monumen masa lalu, tetapi sebagai pusat kehidupan dan peradaban Muslim yang terus hidup dan bernapas, meneduhkan jiwa di tengah dinamika zaman. Setiap batu, setiap karpet, dan setiap doa yang dipanjatkan di dalamnya, terus merajut benang-benang spiritualitas yang menghubungkan setiap Muslim dengan teladan utama mereka, Nabi Muhammad SAW.

Sumber Berita:https://www.jakartamu.com

Indonesia Beli Hotel 1.461 Kamar di Makkah, Awali Proyek Kampung Haji

Indonesia Beli Hotel 1.461 Kamar di Makkah, Awali Proyek Kampung Haji

 

    Foto/istimewa

  Pemerintah Indonesia telah membeli sebuah hotel besar di kawasan Tahrir, sebagai hunian jemaah haji dan umrah. Langkah ini menjadi fase awal realisasi proyek Kampung Haji Indonesia yang ditargetkan mulai berjalan pada Januari 2026.

“Kita sudah membeli satu hotel di daerah Tahrir. Itu hotel dengan kapasitas kamar 1.461 kamar di tiga tower,” ujar Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani seusai melaporkan progres proyek tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (17/12/2025).

Hotel tersebut diproyeksikan menampung sekitar 4.383 jemaah haji Indonesia. Hotel yang diakuisisi terdiri atas tiga tower setinggi 28 lantai dengan luas lahan sekitar 4.620 meter persegi, sementara lahan tambahan yang telah dibeli mencapai sekitar 4,4 hektare.

Selain akuisisi hotel, pemerintah juga membeli lahan di area depan hotel dengan luas sekitar 5 hektare untuk pengembangan tahap lanjutan. Di atas lahan itu direncanakan pembangunan 13 tower tambahan serta satu pusat perbelanjaan yang diperuntukkan bagi jemaah haji dan umrah Indonesia. Jika seluruh tower rampung, kapasitas kawasan ini diperkirakan mencapai 6.025 kamar dengan daya tampung lebih dari 23.000 jemaah.

Rosan menyebut lokasi hotel relatif dekat dengan Masjidil Haram. “Jaraknya hanya sekitar 2,5 kilometer dari Masjidil Haram,” katanya. Akses tersebut akan semakin singkat dengan rencana pembangunan terowongan atau jembatan Al-Hujun yang ditargetkan rampung pada 2026. Infrastruktur itu akan memangkas jarak tempuh jamaah dari sebelumnya sekitar 4,5–6 kilometer menjadi sekitar 2,5 kilometer.

Investasi Awal Rp8 Triliun

Dari sisi investasi, Rosan menyebut nilai awal pengembangan Kampung Haji Indonesia telah melampaui USD500 juta atau sekitar Rp8,33 triliun. Dana tersebut digunakan untuk akuisisi hotel dan pembelian lahan. “Nilai pembeliannya total itu adalah 500 juta dolar lebih sedikit,” ujarnya.

Untuk pengembangan lanjutan, kebutuhan investasi masih bersifat tentatif di kisaran USD700–800 juta, dengan nilai penawaran lahan secara keseluruhan berada di sekitar USD750 juta. “Paling nggak, ini adalah awal yang sangat baik. Inilah mandat yang diberikan kepada kami, sudah mulai kami laksanakan,” kata Rosan. Pembangunan di atas lahan baru tersebut ditargetkan dimulai pada kuartal IV tahun depan.

Pendanaan tahap awal, termasuk pengambilalihan aset, seluruhnya dibiayai oleh Danantara. Ke depan, pemerintah membuka peluang kolaborasi dengan Kementerian Haji dan Umrah yang juga memiliki sumber pendanaan. Menurut Rosan, tujuan utama proyek ini adalah peningkatan kualitas pelayanan bagi jamaah Indonesia. “Pada intinya, bagaimana kita meningkatkan pelayanan kepada jamaah kita menjadi lebih baik dan lebih nyaman,” ujarnya.

Incar Lahan Sekitar Masjidil Haram

Selain akuisisi yang telah berjalan, Indonesia juga tengah mengikuti proses bidding atau lelang lahan tambahan untuk pengembangan Kampung Haji. Rosan menjelaskan terdapat delapan plot yang ditawarkan, dan Indonesia memilih lahan nomor enam di kawasan Western Hindawiah karena kondisi tanahnya relatif datar dan strategis. “Yang nomor 6 namanya di Western Hindawiah. Itu jaraknya hampir sama 2,5 kilometer dari Masjidil Haram,” katanya.

Peminat lahan tersebut cukup tinggi dengan sekitar 90 bidder, namun Indonesia berhasil masuk dua besar. Proses lelang tidak didasarkan pada harga karena nilai lahan telah ditetapkan otoritas setempat. Penilaian dilakukan melalui rencana pengembangan, desain bangunan, serta kepatuhan terhadap regulasi. “Proses bidding-nya adalah melalui rencana, gambar, kemudian mengikuti peraturan dan lain-lain dan kita dua besar Alhamdulillah,” ujar Rosan.

Pengumuman pemenang lelang dijadwalkan pada akhir Desember 2025 atau Januari 2026. Rosan berharap Indonesia berhasil memperoleh lahan tersebut agar jamaah haji dan umrah Indonesia mendapatkan fasilitas yang lebih layak dan lebih dekat dari Masjidil Haram. “Tentunya ini akan menambah Insyaallah kekhusyukan mereka pada saat melakukan umrah dan haji,” pungkasnya.

Sumber Berita:https://www.jakartamu.com/

Menjadi Insan Tangguh Bencana

Menjadi Insan Tangguh Bencana

 

    Banjir dan tanah longsor di Sumetara. Foto/ylbhi.or.id

  Bencana atau musibah adalah hal yang pasti. Kemarin di Sumatera, esok atau lusa bisa saja terjadi di Jakarta.”  Pernyataan Ustaz H. Sumaryono Bimroh dari RSIJ Pondok Kopi itu menjadi pengantar kajian tentang ketangguhan bencana  di Masjid Al-Huda, Cipinang Kebembem, Jakarta Timur, Rabu (17/12/2025) malam. 

Dia mengingatkan bahwa Al-Qur’an telah menegaskan adanya ujian bagi manusia. Surah Al-Baqarah ayat 155  menyebutkan bahwa manusia akan diuji dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan hasil bumi.

“Kalimat wa lanabluwannakum itu jelas, setiap manusia pasti akan menerima musibah atau bencana. Orang beriman tidak perlu kaget. Justru di situlah kita harus bersiap menjadi insan yang tangguh,” ujarnya.

Ustaz H. Sumaryono Bimroh. Foto: jakartamu.com/noor fajar asa

Ayat tersebut sekaligus memberi gambaran bahwa bentuk besar musibah yang menimpa manusia setidaknya berkisar pada lima hal: ketakutan, kelaparan, berkurangnya harta, hilangnya jiwa, dan rusaknya hasil alam. Pemahaman yang tepat atas realitas itu akan melahirkan sikap arif dan bijak, berpijak pada hukum sains, serta mendorong proses pencegahan dan mitigasi bencana secara sadar.

Bencana, lanjut Ustaz Sumaryono, ada yang murni berasal dari siklus alam, seperti gempa bumi tetapi ada pula bencana yang berkaitan erat dengan perilaku manusia. Eksploitasi alam tanpa kendali, pembalakan liar, dan aktivitas tambang yang mengabaikan daya dukung lingkungan disebut sebagai contoh kesalahan manusia dalam menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi.

Dalam kerangka itulah ketangguhan bencana tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan kesadaran sosial, etika lingkungan, dan kesiapan kolektif untuk saling menolong ketika musibah datang, kapan pun dan di mana pun.

Untuk itulah dibutuhkan  pemahaman bersama bahwa bencana adalah keniscayaan yang menuntut perubahan cara bersikap. Bagi penyintas, bencana mesti melahirkan kemampuan untuk bangkit, memelihara harapan, dan melanjutkan hidup. Sementara masyarakat yang tidak terdampak memikul kewajiban moral membantu pemenuhan hak-hak korban serta memulihkan kondisi secara bermartabat.

Hal ini pula yang coba ditata ulang Muhammadiyah melalui MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center). Nomenklatur Bahasa Indonesianya berubah dari Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) menjadi Lembaga Resiliensi Bencana (LRB). Perubahan ini resmi berlaku sejak 2022–2023 berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Meski demikian, singkatan dan identitas MDMC tetap dipertahankan sebagai brand yang telah dikenal luas, termasuk di tingkat internasional.

Perubahan nomenklatur itu dimaknai sebagai upaya menaikkan cita-cita menjadi praktik nyata. Fokus tidak lagi semata pada penanganan darurat, tetapi pada ketangguhan atau resiliensi masyarakat dalam menghadapi bencana, sejak tahap pencegahan hingga pemulihan.

Sumber Berita:www.jakartamu.com

 Muhammadiyah–Kemenbud Salurkan Sarana Kesenian untuk Seniman Jalanan

Muhammadiyah–Kemenbud Salurkan Sarana Kesenian untuk Seniman Jalanan

 

    Penyerahan bantuan kanvas sebesar 30 meter salah satu komunitas jalanan. Foto: jakartamu.com/muhibudin kamali


  Lembaga Seni Budaya PP Muhammadiyah menyalurkan sarana dan prasarana kebudayaan bagi seniman jalanan dari Kementerian Kebudayaan RI. Penyerahan dilakukan di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Rabu (17/12/2025).

Acara ini dihadiri Ketua PP Muhammadiyah Prof. Syafiq A. Mughni, Wakil Ketua LSB PP Muhammadiyah Edi Sukardi dan KH Kusen, S.Ag., M.A., Ph.D. yang dikenal sebagai Kiai Cepu. Hadir pula sejumlah komunitas jalanan seperti Matahari Street Punk, Komunitas Derik, komunitas dimensi, serta komunitas disabilitas. Mereka turut menampilkan karya dan pertunjukan seni dalam kegiatan tersebut.

Penampilan Komunitas Matahari Street Punk. Foto: jakartamu.com/muhibudin kamali

Bantuan dari Kemenbnud yang diserahkan berupa alat lukis dan perangkat musik yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing komunitas. Komunitas Derik menerima kanvas berukuran besar beserta cat akrilik. Komunitas Dimensi memperoleh berbagai ukuran kanvas, cat, kuas, palet, hingga frame kanvas.

Untuk komunitas Street Punk disalurkan perangkat pendukung pertunjukan musik seperti mikrofon, stand, instrumen perkusi, gitar, biola, dan sistem tata suara. Sementara komunitas disabilitas menerima perlengkapan musik antara lain mikrofon, keyboard beserta stand, gitar listrik dan akustik, kajon, serta tamborin.

Syafiq A. Mughni mengapresiasi dukungan Kementerian Kebudayaan dan inisiatif LSB PP Muhammadiyah dalam menjangkau seniman jalanan. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari dakwah yang bergerak melalui jalur seni dan budaya.

“Lebih dari membantu mereka yang selama ini berada di tepian kehidupan masyarakat, kegiatan ini adalah bagian dakwah Muhammadiyah yang terus dikembangkan agar bisa menyentuh segala aspek kehidupan masyarakat,” ujar Syafiq saat membuka acara.

Ia juga menyinggung peran seni dalam perjalanan sejarah peradaban. “Seni dan budaya dalam sejarah memiliki peran strategis. Misalnya gerakan Renaisans di Eropa, juga menempatkan seni sebagai bagian penting,” katanya.

Syafiq menambahkan, Muhammadiyah kerap dipersepsikan jauh dari aktivitas seni budaya, meski sebenarnya tidak pernah mengambil jarak dengan seni secara umum. Melalui program penyaluran sarana ini, ia berharap persepsi tersebut berubah. 

“Muhammadiyah akan terus mengembangkan dakwah seni dan budaya, karena itu memang bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia,” ujarnya.

Sumber Berita:www.jakartamu.com