Al-Ma'un
Din Syamsuddin Ajak Guru Muhammadiyah Terapkan Pengajaran Profetik di Forum Guru Jawa Tengah

Din Syamsuddin Ajak Guru Muhammadiyah Terapkan Pengajaran Profetik di Forum Guru Jawa Tengah

Dalam sebuah pertemuan besar yang diadakan di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 7 November 2026, Prof. Dr. Din Syamsuddin menekankan pentingnya mengintegrasikan penguasaan materi, kemampuan mengajar, dan nilai-nilai kenabian dalam praktik belajar mengajar para guru Muhammadiyah.

Pengajaran Profetik dan Deep Learning

Din menyebut pendekatan yang ia usulkan sebagai Prophetic Teaching, yakni kombinasi antara penguasaan materi pelajaran dengan penanaman hikmah, adab, etika, serta akhlak. Ia menambahkan bahwa metode ini sejalan dengan konsep deep learning yang mencakup pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful.

"Guru harus menjadi pribadi yang siap jadi sekaligus siap pakai, tidak hanya menguasai konten tetapi juga mahir menerapkan metode yang memupuk nilai moral," ujar Din.

Dukungan Pemerintah dan Dirjen GTK

Acara tersebut dihadiri sekitar 12.500 guru Muhammadiyah dari seluruh Jawa Tengah serta tokoh pendidikan nasional, termasuk Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Nunuk Suryani. Nunuk menegaskan pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap forum ini sebagai sarana komunikasi, penyebaran kebijakan, serta peningkatan kesejahteraan guru.

Ia juga mengajak kolaborasi antara sektor pendidikan swasta dan pemerintah untuk memperkuat kualitas serta kesejahteraan pendidik, khususnya yang belum memiliki sertifikat pendidik atau kualifikasi sarjana.

Persaudaraan dan Daya Saing Guru

Iwan Junaedi, Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PWM Jawa Tengah, menyoroti bahwa pertemuan berskala besar ini mempererat persaudaraan serta menumbuhkan semangat kompetitif di kalangan guru Muhammadiyah, terutama menjelang peringatan Hari Guru.

Ia mengharapkan kehadiran para pemimpin pendidikan, termasuk Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, dapat memotivasi guru untuk terus meningkatkan profesionalitasnya.

Beasiswa 50% untuk Guru Muhammadiyah

Sutomo, Ketua Pimpinan Pusat Forum Guru Muhammadiyah, mengumumkan adanya beasiswa dengan potongan biaya kuliah sebesar 50 persen bagi guru Muhammadiyah yang ingin melanjutkan studi di UMS. Program beasiswa ini diharapkan menjadi pendorong utama bagi peningkatan kompetensi dan kesejahteraan tenaga pengajar.

Dengan rangkaian agenda tersebut, diharapkan guru Muhammadiyah dapat mengoptimalkan peran strategisnya sebagai agen peradaban, pembangunan, dan pembentukan generasi emas Indonesia.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Tahfiz Camp 2026 Smamio Dorong Siswa Tingkatkan Hafalan Al‑Qur’an di Jombang

Tahfiz Camp 2026 Smamio Dorong Siswa Tingkatkan Hafalan Al‑Qur’an di Jombang

SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik menyelenggarakan Tahfiz Camp 2026 pada 5‑7 November di kawasan Bumi Al‑Qur’an, Wonosalam, Jombang. Acara yang diikuti oleh 26 pelajar kelas X dan XI ini dirancang untuk mempercepat peningkatan hafalan Al‑Qur’an serta menumbuhkan kedekatan spiritual dengan kitab suci.

Fokus Pembelajaran dan Pendekatan Spiritual

Panitia yang dipimpin oleh Cindy Ciecielia Nurhalizah, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya sekolah untuk meningkatkan kualitas hafalan siswa. "Kami berharap melalui kamp ini, para peserta dapat lebih termotivasi, tidak hanya menambah jumlah ayat yang dihafal, tetapi juga memperdalam kecintaan mereka pada Al‑Qur’an," ujarnya.

Selain sesi intensif menghafal, program ini menghadirkan materi keislaman yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Ghazali, M.Pd., Qodimul Ma’had Pondok Bumi Al‑Qur’an. Ustadz Ghazali menekankan pentingnya memahami makna ayat-ayat yang dihafal, menjaga kesucian diri, serta memperbanyak istighfar dan salat taubat sebagai landasan moral dalam menginternalisasi nilai‑nilai Qurani.

"Menghafal tidak cukup sekadar mengingat; pemahaman dan penerapan ajaran dalam kehidupan sehari‑hari adalah kunci," tegasnya.

Para peserta juga merasakan perubahan suasana belajar yang lebih menyenangkan. Queenita Salama, salah satu siswa, menyatakan, "Suasana yang berbeda membuat proses menghafal terasa lebih hidup dan tidak membosankan. Kami jadi lebih semangat mengikuti setiap kegiatan."

Dengan kombinasi antara latihan hafalan, kajian keislaman, dan pembinaan spiritual, diharapkan para siswa tidak hanya meningkatkan memorisasi, melainkan menjadikan Al‑Qur’an sebagai bagian integral dari karakter dan kebiasaan hidup mereka.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
12.500 Guru Muhammadiyah di Jawa Tengah Ikuti Silaturahmi Akbar di Edutorium UMS

12.500 Guru Muhammadiyah di Jawa Tengah Ikuti Silaturahmi Akbar di Edutorium UMS

Pada Sabtu, 7 November 2026, sekitar dua belas ribu lima ratus guru Muhammadiyah dari seluruh Jawa Tengah berkumpul dalam Silaturahmi Akbar Forum Guru Muhammadiyah (FGM) yang diselenggarakan di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Acara ini menjadi ajang pertemuan terbesar bagi para pendidik Muhammadiyah di wilayah tersebut.

Para Tokoh Pendidikan Nasional Hadir

Rangkaian kegiatan menampilkan sejumlah tokoh pendidikan terkemuka, antara lain Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A., mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2005–2015), serta Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

"Guru merupakan sosok pencerah yang bertugas mencerahkan umat," ujar Din Syamsuddin dalam tausiyahnya.

Din menegaskan pentingnya kompetensi guru tidak hanya pada penguasaan materi, melainkan juga pada kemampuan menerapkan metode pengajaran yang efektif. Ia memperkenalkan konsep "Prophetic Teaching"—pendekatan yang menggabungkan nilai‑nilai kenabian dengan prinsip deep learning seperti mindful, meaningful, dan joyful learning.

"Jadilah guru yang siap jadi, siap pakai. Artinya, guru Muhammadiyah harus memiliki kompetensi yang mencakup penguasaan materi dan keahlian metode mengajar," tegasnya.

Dukungan Pemerintah dan Harapan Kebijakan

Prof. Dr. Nunuk Suryani menyampaikan apresiasi pemerintah atas penyelenggaraan silaturahmi ini. Ia menegaskan bahwa Forum Guru Muhammadiyah terdaftar sebagai organisasi profesi yang berhak menerima fasilitasi dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.

Nunuk menyoroti pentingnya kolaborasi antara penyelenggara pendidikan swasta dan pemerintah untuk meningkatkan kualitas serta kesejahteraan guru, terutama bagi mereka yang belum memiliki sertifikat pendidik atau belum berstatus sarjana.

Peran Majelis Pendidikan Muhammadiyah

Dr. Iwan Junaedi, Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, menekankan bahwa pertemuan berskala besar ini memperkuat persaudaraan dan semangat perjuangan para guru. Ia menambahkan bahwa momentum ini bertepatan dengan peringatan Hari Guru, sehingga menjadi pendorong moral yang signifikan.

Sutomo, M.Ag., Ketua Pusat Forum Guru Muhammadiyah, menyatakan November 2026 menjadi momen istimewa bagi guru Muhammadiyah di Jawa Tengah. Ia memuji kehadiran rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, serta para pakar pendidikan yang memberikan motivasi dan wawasan praktis.

Selain itu, Sutomo mengumumkan beasiswa hingga 50 % bagi guru Muhammadiyah yang ingin melanjutkan studi di UMS, sebuah peluang yang diharapkan dapat meningkatkan kualifikasi akademik dan profesionalisme para pendidik.

Harapan Kedepan

Seluruh pihak berharap silaturahmi akbar ini menjadi katalisator bagi peningkatan kualitas pendidikan Muhammadiyah di Jawa Tengah, sekaligus memperkuat jaringan komunikasi antara guru, institusi pendidikan, dan pemerintah.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Produk UMKM Binaan Lazismu Bersinar di Muhammadiyah Zakat Summit 2026, Semarang

Produk UMKM Binaan Lazismu Bersinar di Muhammadiyah Zakat Summit 2026, Semarang

Berbagai produk UMKM yang dibina oleh Lembaga Amil Zakat Nasional (Lazismu) menghiasi stan di ajang Muhammadiyah Zakat Summit 2026 yang berlangsung pada 5‑7 November 2026 di Hotel Dafam, Semarang.

Para peserta menemukan ragam makanan tradisional, kerajinan, dan fashion yang dihasilkan dari program pemberdayaan Lazismu di sejumlah provinsi.

Ragam Kuliner dan Kerajinan yang Dipamerkan

Tim Lazismu Jawa Timur menampilkan aneka olahan pangan, antara lain telur asin, rempeyek berbahan kedelai, kacang, kupang, serta rempeyek beraroma ketumbar. Produk mitra Bankziska juga dipajang, meliputi gula batok, bumbu pecel, rengginang, olahan gadung, dan tas anyaman.

Selain itu, stan tersebut mempersembahkan kopi Arabika dari Bali Kintamani, kopi Robusta Lampung, dan kopi Robusta Jawa Dampit, serta camilan seperti bawang goreng merah‑putih, kentang Mustofa, kuping gajah, dan soes cokelat. Pilihan lain mencakup keripik baso ikan dan keripik kebab.

Sebagai pelengkap, terdapat produk fesyen berupa kopiah berlogo Lazismu dan kain batik tulis khas daerah.

Kurasi dan Pendampingan Produk

Ratri Khoiriyah, koordinator stan Lazismu Jawa Timur, menjelaskan bahwa setiap barang yang dipamerkan telah melewati proses seleksi ketat. Pengusaha kecil yang terlibat juga mendapat bimbingan dalam memperbaiki desain kemasan agar lebih menarik bagi konsumen.

Menurutnya, peningkatan tampilan dan kualitas kemasan membantu produk lokal menampilkan rasa percaya diri yang lebih tinggi saat bersaing di pasar.

Peluang Pemasaran Lebih Luas

Lazismu menegaskan bahwa dukungan ekonomi tidak berhenti pada pemberian modal, melainkan dilanjutkan dengan pelatihan dan pendampingan untuk memperkuat daya saing. Partisipasi dalam Muhammadiyah Zakat Summit menjadi salah satu strategi untuk memperkenalkan produk binaan kepada publik yang lebih luas dan membuka jaringan penjualan baru.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Lazismu Gresik Ungkap Lima Program Inovatif di Muhammadiyah Zakat Summit 2026

Lazismu Gresik Ungkap Lima Program Inovatif di Muhammadiyah Zakat Summit 2026

Lazismu Gresik menampilkan lima program unggulan pada Muhammadiyah Zakat Summit (MZS) 2026, mencakup bidang pendidikan, lingkungan, kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi perempuan dan pembinaan anak. Semua inisiatif berlandaskan pada kebutuhan riil warga dan bertujuan menciptakan dampak berkelanjutan.

Program Berbasis Kebutuhan Masyarakat

Pena Cita (Pendampingan Edukasi Anak Asuh Meraih Cita‑Cita) dimulai pada 2021 ketika pandemi meningkatkan kerentanan ekonomi keluarga yatim. Program ini menanggung biaya pendidikan selama satu tahun ajaran lewat dukungan CSR, zakat, infak, serta sedekah pegawai.

Go Green School lahir sebagai respons atas masalah sampah plastik di pesisir Campurejo. Siswa diajarkan memisahkan botol plastik, mengelola bank sampah, dan menginternalisasi nilai kebersihan serta kepedulian sosial melalui gerakan Hamas Asri (Aman, Sehat, Resik, Indah).

Sigap Sehat (Sinergi Gerakan Akses Pelayanan Kesehatan) menyediakan transportasi sosial gratis bagi pasien prasejahtera, termasuk lansia, penyandang disabilitas, anak-anak, dan pasien yang memerlukan perawatan rutin seperti cuci darah. Layanan mencakup pendataan, penetapan prioritas, penjadwalan, hingga pelaporan perjalanan.

Pemberdayaan Ekonomi dan Peran Pengasuh

Bunda Tangguh bekerja sama dengan Aisyiyah Kabupaten Gresik untuk memperkuat perempuan kepala keluarga. Program ini memberikan modal, peralatan, pelatihan keterampilan, serta pendampingan usaha mikro, mengubah peran mustahik menjadi muzakki melalui penggunaan dana ZIS yang produktif.

Bintang Pengasuh 2026 mengajak masyarakat menjadi orang tua asuh yang mendampingi pendidikan anak. Dengan tema “Cahaya Pembimbing Anak Menuju Cita‑Cita”, program ini menyalurkan dana sebesar Rp323.930.145 dari 208 donatur, menyediakan dukungan materi, motivasi, dan perhatian bagi anak‑anak penerima manfaat.

Kelima program tersebut mencerminkan komitmen Lazismu Gresik untuk berinovasi sesuai tantangan lapangan, sekaligus menegaskan peran aktif donor dalam proses pemberdayaan.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Ibu‑Ibu Sidoarjo Menyulap Kelas Mengaji Dewasa di TPQ Baitul Ukhuwah, Usia Bukan Halangan

Ibu‑Ibu Sidoarjo Menyulap Kelas Mengaji Dewasa di TPQ Baitul Ukhuwah, Usia Bukan Halangan

Di kawasan Perumahan Bumi Cabean Asri, Candi, Sidoarjo, sekelompok ibu‑ibu berusia antara 45 hingga 67 tahun secara rutin hadir setelah shalat Isya, Senin‑Jumat, untuk memperdalam bacaan Al‑Qur’an di TPQ Baitul Ukhuwah.

Suasana masjid berubah menjadi riuh tiap malam, terdengar alunan ayat‑ayat suci yang dibaca berulang‑ulang. Mereka tidak sekadar menghafal, melainkan berupaya memperbaiki tajwid dan makhraj yang selama ini belum sempurna.

Beberapa peserta telah mengikuti program ini sejak TPQ berdiri pada tahun 2021, menandakan komitmen jangka panjang meski usia terus bertambah.

Asal‑Usul TPQ Baitul Ukhuwah dan Transformasi Lingkungan

Masjid Baitul Ukhuwah berdiri di ujung timur perumahan, bersebrangan dengan sebuah pemakaman umum. Dahulu kawasan tersebut dikenal sebagai tempat pembuangan sampah ilegal dan dianggap sepi karena berbatasan dengan sungai serta tambak.

Keberadaan masjid yang mulai dibangun pada 2021 mengubah citra lingkungan. Pada fase awal, atap sudah terpasang tetapi lantai belum berkeramik dan dinding masih belum diplester. Meskipun begitu, kegiatan belajar mengaji sudah dimulai, dimanfaatkan oleh anak‑anak setempat yang datang selepas Maghrib hingga Isya.

Seiring berjalannya waktu, kelompok remaja dan orang dewasa juga bergabung, menjadikan TPQ sebagai pusat pendidikan Al‑Qur’an bagi semua kalangan.

Saat ini, TPQ Baitul Ukhuwah menampung 145 santri, mulai dari balita hingga orang dewasa, yang dibagi dalam tiga sesi: sesi pertama setelah Ashar hingga Maghrib untuk sembilan kelompok anak; sesi kedua Maghrib‑Isya untuk empat kelompok anak; serta sesi ketiga Isya‑20.30 untuk satu kelompok remaja dan enam kelompok dewasa.

Pengajar terdiri dari 13 tenaga pendidik yang semuanya memiliki sertifikat Ummi, memastikan standar pembelajaran yang konsisten.

Metode Pengajaran dan Semangat Para Ibu

Kelas mengaji dewasa dibagi berdasarkan tingkat kemampuan. Materi yang disajikan mencakup tartil 1, tartil 3, tajwid, hingga pascatartil. Banyak peserta mengaku baru pertama kali mengenal huruf hijaiyah pada usia ini, sementara yang lain pernah belajar saat muda namun masih memerlukan penyempurnaan makhraj dan tajwid.

Proses belajar di usia lanjut memang menghadirkan tantangan, terutama terkait daya ingat dan kecepatan penyerapan materi. Sebagaimana pepatah Arab menyatakan, belajar di masa muda ibarat mengukir di atas batu, sedangkan di usia tua ibarat mengukir di atas air.

Namun, keyakinan para ibu tetap kuat. Mereka percaya bahwa Allah menilai ketulusan usaha, bukan sekadar hasil akhir. Hadis riwayat Muslim yang menyebutkan pahala bagi pembaca Al‑Qur’an yang terbata‑bata menjadi motivasi tambahan.

Kepala TPQ, M. Ridho Naufal Amien, S.Pd., menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mempelajari Al‑Qur’an. Ia menyatakan, "Melalui program Tahsin Mengaji Dewasa TPQ Baitul Ukhuwah, kami mengajak masyarakat untuk bersama‑sama memperbaiki bacaan Al‑Qur’an, mulai dari makhraj huruf, sifat huruf, hingga penerapan tajwid yang benar." Naufal, yang juga mengajar di SMA Muhammadiyah 9 Surabaya dan tengah menempuh magister di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, menambah pesan agar warga tidak menunda kesempatan belajar demi menunggu kesempurnaan.

Melalui dedikasi mereka, TPQ Baitul Ukhuwah kini menjadi contoh nyata bahwa tempat yang dulu dihindari warga dapat berubah menjadi sumber cahaya spiritual, sekaligus bukti bahwa belajar Al‑Qur’an tidak mengenal batas usia.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
PENS Resmikan Tiga Guru Besar di Bidang Teknologi, Perkuat Riset Nasional

PENS Resmikan Tiga Guru Besar di Bidang Teknologi, Perkuat Riset Nasional

Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) menggelar sidang terbuka Senat pada 6 November 2026 di Auditorium Gedung Pascasarjana, Lantai 6, Kampus Sukolilo, Surabaya, untuk mengukuhkan tiga akademisi menjadi Guru Besar.

Profil Tiga Guru Besar Terbaru

Prof. Dr. Tri Budi Santoso, S.T., M.T. dianugerahi gelar Guru Besar bidang Pengolahan Sinyal Akustik pada Jurusan Teknologi Multimedia Kreatif. Penelitiannya berfokus pada pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mengenali emosi lewat suara manusia, termasuk pengembangan dataset Speech Emotion Recognition berbahasa Indonesia.

Prof. Aliridho Barakbah, S.Kom., Ph.D. memperoleh gelar Guru Besar bidang Data Mining di Jurusan Teknik Informatika dan Komputer. Ia menyampaikan temuan terkait algoritma klasterisasi baru, seperti Pillar Algorithm dan Clustro, serta aplikasi analisis data untuk pemantauan gempa bumi, perubahan tutupan hutan, dan kajian sentimen masyarakat.

Prof. Dr. Bima Sena Bayu Dewantara, S.ST., M.T. diangkat menjadi Guru Besar bidang Robot Sosial dan Aplikasi Sistem Pintar. Karyanya mencakup integrasi sensor, pengenalan wajah, pelacakan manusia, serta navigasi otonom yang memungkinkan robot beradaptasi dengan lingkungan secara mandiri.

Prosesi dan Orasi Ilmiah

Sidang dibuka dengan penyanyian Lagu Kebangsaan dan Himne PENS, dilanjutkan pembacaan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia yang menjadi dasar pengangkatan ketiga akademisi. Selanjutnya masing‑masing profesor menyampaikan orasi ilmiah yang menyoroti inovasi dan tantangan masa depan di bidang keahlian mereka.

Tri Budi menekankan pentingnya memperhatikan karakteristik penutur, variasi dialek, dan kualitas rekaman dalam pengembangan sistem pengenalan emosi berbasis suara. “Teknologi kecerdasan buatan dalam mengenali emosi melalui suara perlu dibangun dengan mempertimbangkan karakteristik penutur, variasi dialek, dan kualitas rekaman,” ujarnya.

Aliridho menambah bahwa algoritma klasterisasi harus menyeimbangkan akurasi pengelompokan dan efisiensi komputasi. “Pengembangan algoritma klasterisasi perlu memperhatikan ketepatan pengelompokan sekaligus efisiensi proses komputasi,” katanya.

Bima menekankan bahwa robot sosial masa depan harus mampu mengintegrasikan sensor canggih dengan keputusan otomatis untuk menjalankan fungsi secara mandiri, mulai dari navigasi kendaraan otonom hingga sistem deteksi kelelahan pengemudi.

Implikasi bagi Pengembangan Riset PENS

Pengukuhan tiga guru besar ini memperluas kapasitas riset PENS di bidang pemrosesan sinyal suara, analisis data skala besar, dan robotika pintar, sekaligus menegaskan komitmen institusi dalam menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan untuk kepentingan masyarakat luas.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
SMK Muhammadiyah 2 Banyuwangi Studi Tiru Vocatama: Tingkatkan Mutu Pendidikan Vokasi

SMK Muhammadiyah 2 Banyuwangi Studi Tiru Vocatama: Tingkatkan Mutu Pendidikan Vokasi

Tim dari SMK Muhammadiyah 2 Banyuwangi melakukan kunjungan studi tiru ke Vocatama, Sidoarjo, pada Jumat 6 November 2026, dengan tujuan meninjau pengelolaan laboratorium, penyelarasan kurikulum, dan jaringan kemitraan industri.

Penjelasan Latar Belakang Kunjungan

Dipimpin oleh Kepala Sekolah Tamyis Rosidi, rombongan yang terdiri atas manajemen dan perwakilan guru tersebut merupakan bagian dari program peningkatan tata kelola sekolah vokasi Muhammadiyah di Jawa Timur.

Vocatama dipilih karena fasilitas laboratorium praktiknya dirancang untuk menjawab kebutuhan industri modern, kata Rosidi.

Meninjau Laboratorium dan Fasilitas Praktik

Setibanya di Vocatama, Jalan Raya Sawunggaling No.121‑123, Jemundo, Kecamatan Taman, tim disambut oleh Kepala SMK Muhammadiyah 1 Taman, Rachmat Susilo, S.Pd., serta Kepala SMK Muhammadiyah 2 Taman, Fatchul Mubarok, S.Th.I., M.Pd., bersama staf hubungan masyarakat Ida Fitriyah, S.Ag., S.Kom., M.Pd., dan Ketua Program Keahlian DKV Nurul Rachmawati, H., S.Pd.

Rombongan kemudian menelusuri laboratorium serat optik, studio media dan fotografi, serta ruang‑kelas yang terintegrasi teknologi. Fatchul Mubarok menjelaskan bahwa semua fasilitas dikembangkan untuk menyesuaikan diri dengan dinamika dunia usaha dan industri (DUDI).

“Pengamatan langsung memberi gambaran jelas tentang cara penataan dan pengelolaan sarana praktik yang dapat mempersiapkan siswa menghadapi tantangan kerja,” ujarnya.

Diskusi Kebijakan Kurikulum dan Kemitraan Industri

Setelah tur fasilitas, kedua belah pihak mengadakan diskusi terbuka yang mencakup penyelarasan kurikulum berbasis kebutuhan industri, strategi pengelolaan laboratorium, pengembangan kemitraan DUDI, serta peluang kerja bagi lulusan.

Rosidi menyatakan optimisme bahwa inovasi yang dipelajari dapat diadaptasi di SMK Muhammadiyah 2 Banyuwangi untuk mempercepat peningkatan mutu pembelajaran vokasi.

“Tujuan kami adalah menghasilkan lulusan yang terampil, mandiri, dan kompetitif di pasar kerja global,” tegasnya.

Penutup dan Harapan Kerjasama Berkelanjutan

Rachmat Susilo dan Fatchul Mubarok menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut dan menekankan pentingnya pertukaran pengalaman antar lembaga dalam rangka memajukan pendidikan kejuruan Muhammadiyah.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Perempuan sebagai Motor Penggerak Pembangunan Nasional

Perempuan sebagai Motor Penggerak Pembangunan Nasional

Perempuan

Perempuan tidak hanya memperjuangkan haknya, melainkan juga menyiapkan masa depan bangsa.

Indonesia tidak kekurangan sosok perempuan yang cerdas, tangguh, berpendidikan, serta memiliki kapasitas kepemimpinan yang kuat.

Masalahnya, apakah ruang‑ruang sosial, ekonomi, politik, dan kebijakan publik telah memberikan kesempatan yang setara bagi perempuan untuk berperan strategis dalam menentukan arah negara?

Selama ini, perempuan sering disebut sebagai pilar keluarga, pendidik generasi, penjaga moral, dan motor kesejahteraan masyarakat. Sebutan itu memang penting, namun tidak boleh berhenti pada simbol semata. Pada realitas pembangunan, perempuan masih menghadapi diskriminasi, keterbatasan akses, ketimpangan kesempatan, dan minimnya representasi dalam pengambilan keputusan.

perempuan bukan sekadar penerima manfaat, melainkan subjek utama yang menyalakan roda pembangunan.

Mengakhiri Paradoks Pembangunan Perempuan

Indonesia telah mencatat kemajuan signifikan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan demokrasi. Perempuan kini semakin banyak mengenyam pendidikan tinggi, masuk dunia kerja, membuka usaha, menjadi akademisi, memimpin organisasi, bahkan mengisi jabatan strategis di pemerintahan. Namun, kesenjangan masih tetap ada.

Masih terlihat perbedaan kesempatan kerja, disparitas upah, beban kerja rumah yang tidak seimbang, kekerasan berbasis gender, perkawinan anak, serta hambatan perempuan dalam meraih posisi kepemimpinan. Inilah paradoks yang harus dipecahkan: di satu sisi perempuan dipuji sebagai kekuatan bangsa, namun di sisi lain mereka harus berjuang melawan struktur sosial yang mengekang potensi.

Kita kerap membicarakan kesetaraan, namun belum sepenuhnya menciptakan ekosistem yang memungkinkan perempuan berkembang secara setara. Pendidikan tinggi bagi perempuan masih dipandang kurang prioritas oleh sebagian keluarga, dan stereotip kepemimpinan masih mengedepankan laki‑laki.

Jadi, persoalan perempuan bukan sekadar urusan individu, melainkan tantangan struktural yang melibatkan kebijakan, budaya, dan arah pembangunan.

Enam Peran Strategis Perempuan dalam Pembangunan

Perempuan Indonesia memegang enam peran utama yang tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan nasional.

  1. Pendidik generasi. Perempuan berperan penting dalam membentuk karakter, kecerdasan, dan nilai kemanusiaan generasi mendatang. Tanggung jawab ini harus dibagi antara negara, keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat, bukan hanya dibebankan pada ibu.
  2. Pemimpin komunitas. Banyak perempuan menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga, desa, organisasi sosial, lembaga pendidikan, dan komunitas keagamaan. Mereka menggerakkan solidaritas, memperjuangkan kesejahteraan, dan memperkuat ketahanan sosial.
  3. Penggerak ekonomi. Perempuan berkontribusi besar dalam ekonomi rumah tangga, UMKM, pertanian, industri kreatif, perdagangan, dan ekonomi digital. Namun kontribusi ini masih kurang dihargai. UMKM yang dikelola perempuan membutuhkan akses pembiayaan, teknologi, pasar, serta pendampingan yang berkelanjutan.
  4. Pembangun perdamaian. Dalam masyarakat majemuk Indonesia, perempuan berperan dalam memelihara kerukunan, menyelesaikan konflik, serta memperkuat toleransi dan kohesi sosial.
  5. Pencipta pengetahuan. Perempuan harus lebih dari sekadar konsumen ilmu; mereka perlu diberi ruang untuk menjadi peneliti, inovator, akademisi, dan pengembang teknologi.
  6. Penjaga nilai kemanusiaan. Perempuan berperan dalam memperjuangkan keadilan, perlindungan anak, kesetaraan, dan keberlanjutan lingkungan—nilai‑nilai yang menjadi fondasi pembangunan bermartabat.

Pembangunan Tanpa Mengorbankan Perempuan dan Anak

Keberhasilan pembangunan dapat diukur dari kemampuannya melindungi kelompok rentan. Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak harus dijadikan agenda kebijakan yang terpadu.

Kita tidak dapat mengklaim Indonesia maju bila perempuan masih mengalami kekerasan, anak masih kehilangan hak pendidikan, perkawinan anak terus terjadi, dan kemiskinan antar‑generasi tetap meluas.

Tanggung jawab ini bukan sekadar urusan domestik, melainkan kewajiban konstitusional negara yang harus diwujudkan melalui kebijakan, anggaran, layanan publik, dan penegakan hukum yang tegas.

Program pemberdayaan perempuan harus dilengkapi dengan indikator terukur: peningkatan partisipasi dalam pengambilan keputusan, penurunan angka kekerasan, terbukanya akses keuangan, perbaikan kualitas pendidikan, serta tersedianya layanan perlindungan yang mudah diakses.

Empat Pilar Transformasi Perempuan Indonesia

Untuk menciptakan transformasi yang berkelanjutan, empat pilar berikut perlu diperkuat.

  1. Keimanan dan moralitas. Pembangunan harus berlandaskan nilai etika. Dalam perspektif Islam, perempuan dan laki‑laki memiliki martabat yang setara serta tanggung jawab sebagai khalifah di bumi.
  2. Ilmu pengetahuan. Pendidikan merupakan alat pembebasan. Perempuan harus memperoleh akses pendidikan berkualitas, literasi digital, penguasaan teknologi, serta peluang pengembangan kompetensi seumur hidup, terutama di era kecerdasan buatan.
  3. Kepemimpinan substantif. Kehadiran perempuan di lembaga pemerintahan, perguruan tinggi, dunia usaha, dan organisasi masyarakat harus diiringi dengan wewenang, kesempatan, dan pengaruh nyata dalam proses pengambilan keputusan.
  4. Transformasi global. Perempuan perlu menjadi bagian aktif dalam agenda pembangunan berkelanjutan, perubahan iklim, ekonomi hijau, transformasi digital, dan perdamaian global.

Mengubah Cara Pandang Pembangunan

Inti perubahan dimulai dari persepsi kita terhadap perempuan. Mereka tidak boleh lagi dilihat semata‑mata sebagai pelaku domestik atau sekadar statistik untuk memenuhi target pembangunan.

Perempuan harus diakui sebagai subjek berhak, beride, berkompeten, dan berkemampuan menentukan nasibnya. Pemerintah, dunia pendidikan, sektor usaha, keluarga, dan masyarakat semuanya memiliki peran dalam menciptakan kemitraan yang adil, menghormati, dan memberdayakan.

Indonesia membutuhkan perempuan yang terdidik, mandiri secara ekonomi, berintegritas moral, berani memimpin, serta mendapat kesempatan setara untuk berkontribusi. Di sisi lain, laki‑laki juga harus berperan aktif dalam membangun ruang kemitraan, berbagi tanggung jawab, dan menghormati kapasitas perempuan.

Ukuran sejati kemajuan bangsa bukan semata pertumbuhan ekonomi atau infrastruktur, melainkan sejauh mana setiap warga, termasuk perempuan dan anak, dapat hidup dengan martabat, berkembang, dan memberikan kontribusi terbaiknya.

Perempuan Indonesia bukan sekadar pelengkap, melainkan kekuatan utama yang menentukan arah pembangunan masa depan.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co