Al-Ma'un
Kelompok 2 Raih Puncak Nilai dalam Lomba Ilustrasi Etika Amal Usaha di Baitul Arqam PCM Duren Sawit 2

Kelompok 2 Raih Puncak Nilai dalam Lomba Ilustrasi Etika Amal Usaha di Baitul Arqam PCM Duren Sawit 2

Acara pelatihan Baitul Arqam yang diselenggarakan oleh Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PCM Duren Sawit 2 berlangsung dengan semangat tinggi di Asrama Haji Bekasi pada 18‑20 September 2026. Selama tiga hari, peserta diajak menelusuri nilai‑nilai ideologis Muhammadiyah melalui kegiatan yang menggabungkan kajian teoretis dan praktik kreatif.

Visualisasi Nilai Amal Usaha

Drs. Sayonara Siregar, M.Ag., memandu peserta dengan membahas Poin E dalam Pedoman Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah, yakni “Kehidupan dalam Mengelola Amal Usaha”. Alih‑alih ceramah konvensional, beliau menugaskan tiap kelompok untuk menerjemahkan 13 nilai dasar amal usaha ke dalam gambar abstrak. Menurutnya, penggunaan simbol visual dapat memperkuat ingatan otak kanan berdasarkan teori kecerdasan majemuk Gardner.

Setelah proses menggambar selesai, tiap tim saling berkunjung ke kelompok lain untuk mempresentasikan makna gambar serta memberikan penilaian berupa bintang. Dinilai secara dinamis, Kelompok 2 (K2) memperoleh total 17 bintang, menjadikannya pemenang lomba.

Karya K2 menampilkan sosok manusia bersinergi dengan matahari yang melambangkan pencerahan dakwah. Lampu, roda gigi, dan palu menggambarkan inovasi serta etos kerja profesional, sementara buku, perisai, dan jaring menegaskan pentingnya regulasi, integritas, dan tujuan yang jelas dalam mengelola amal usaha.

Di akhir sesi, Drs. Sayonara menekankan bahwa amal usaha Muhammadiyah sejatinya merupakan media dakwah—bukan sekadar sumber pendapatan pribadi. Ia mengingatkan bahwa hak kepemilikan amal usaha berada pada Persyarikatan, bukan pada individu, serta menegaskan dua tugas utama para pengabdi: meningkatkan kualitas amal usaha dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.


๐Ÿ“Œ Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadpiral.blogspot.com
Kader IPM Bawean Terlambat Pulang Akibat Cuaca, Menghabiskan Seminggu di Gresik

Kader IPM Bawean Terlambat Pulang Akibat Cuaca, Menghabiskan Seminggu di Gresik

Dua siswa SMK Muhammadiyah 4 Sangkapura, Diana Bahtreza (kelas XI Akuntansi) dan Putri Kaysatus Safaqah, yang akrab dipanggil Kaysa (kelas X Akuntansi), berangkat ke Gresik untuk mengikuti Musyawarah Daerah (Musyda) ke‑23 Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kabupaten Gresik.

Di sana mereka berpartisipasi dalam rangkaian rapat, diskusi gerakan pelajar, serta pertemuan dengan kader IPM dari berbagai wilayah selama tanggal 11–13 September 2026.

Pelayaran Tertunda Karena Cuaca Buruk

Setelah acara usai, rencana pulang ke Pulau Bawean terganggu karena kondisi cuaca laut yang tidak bersahabat, sehingga kapal penyeberangan tidak dapat berlayar.

Akibatnya, Diana dan Kaysa harus menunggu sekitar satu minggu di Gresik hingga jadwal pelayaran kembali tersedia.

Diana mengaku sempat merasa sedih karena rindu sekolah dan rumah, namun memanfaatkan waktu tersebut untuk merenung dan mematangkan pelajaran yang didapat di Musyda. Kaysa menambahkan, “Justru kami jadi punya waktu lebih untuk bersilaturahmi dengan kakak‑kakak IPM Gresik.”

Pengalaman Organisasi yang Didapat

Selama penantian, kedua kader mengumpulkan pengetahuan tentang dinamika sidang organisasi, strategi gerakan pelajar, dan jaringan antar‑kader yang nantinya akan mereka aplikasikan kembali di SMK Muhammadiyah 4 Sangkapura.

Akhirnya, pada Jumat, 18 September 2026, mereka berhasil kembali ke Bawean bersama kapal yang berlayar kembali, membawa pulang pengalaman berharga selain materi Musyda.


๐Ÿ“Œ Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Sekolah Kreatif Baratajaya Gandeng Orang Tua Bangun Budaya Kepemimpinan di Rumah dan Kelas

Sekolah Kreatif Baratajaya Gandeng Orang Tua Bangun Budaya Kepemimpinan di Rumah dan Kelas

SD Muhammadiyah 16 Surabaya, yang dikenal sebagai Sekolah Kreatif Baratajaya, menegaskan bahwa pembentukan karakter anak harus melampaui dinding kelas dan berlanjut di lingkungan keluarga.

Rapat persiapan seminar parenting
Rapat persiapan seminar parenting guru dan wali murid di perpustakaan sekolah, 9 September 2026

Kesadaran akan pentingnya kesinambungan kebiasaan ini mendorong terbentuknya Parent Lighthouse Team (PLhT) yang berperan aktif dalam menciptakan ekosistem pendidikan berorientasi kepemimpinan.

Seminar Parenting "The Family The Leader"

Pada Rabu, 9 September 2026, PLhT bersama Teacher Lighthouse Team (TLhT) mengadakan pertemuan untuk menyiapkan seminar bertajuk The Family The Leader. Acara tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 26 September 2026, di ASECC Tower Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Menurut Ketua Tim Inovasi Pengembangan Sekolah (TIPS), Heru Tjahyono, kurikulum Leader in Me akan lebih efektif bila kebiasaan yang ditanamkan di sekolah dapat diterapkan secara konsisten di rumah.

"Anak membawa kebiasaan dari sekolah ke rumah, dan sebaliknya; oleh karena itu budaya yang terbentuk harus saling memperkuat," ujar Heru.

Struktur Tim Pendukung Implementasi

Maulana Muhammad, S.Pd., selaku pemimpin TLhT menjelaskan bahwa Leader in Me tidak hanya melibatkan guru, melainkan juga staf, orang tua, dan siswa. Oleh karena itu, sekolah membentuk tiga tim utama: TLhT untuk guru dan karyawan, PLhT untuk orang tua, serta Student Lighthouse Team (SLhT) yang sekaligus berperan sebagai IPM KIDS.

Semua tim tersebut dirancang untuk memperlancar pelaksanaan kurikulum serta menumbuhkan budaya belajar yang menyeluruh.

Pemilihan Lokasi yang Representatif

Anda Marzudinta, ketua PLhT, mengusulkan beberapa alternatif tempat untuk seminar. Setelah dipertimbangkan, ASECC Tower Unair dipilih sebagai venue yang dapat memberikan pengalaman bermakna bagi para orang tua.

Resti Kusfatul Khasanah, S.Si., yang memimpin rapat, menekankan pentingnya partisipasi luas orang tua dalam persiapan dan pelaksanaan acara.

"Seminar ini memang ditujukan untuk orang tua; mari dorong lebih banyak wali murid untuk terlibat," ujar Resti.

Suara Siswa Sebagai Pengukur Keberhasilan

Heru juga menekankan perlunya memberi ruang bagi siswa untuk mengemukakan pendapat melalui student voice. Menurutnya, masukan siswa dapat menjadi indikator apakah program karakter benar‑benar dirasakan dan bermanfaat.

Seminar The Family The Leader diharapkan menjadi momentum yang memperkuat sinergi antara sekolah dan keluarga, menjadikan pendidikan karakter bukan sekadar program sementara, melainkan kebiasaan hidup yang tertanam dalam keseharian anak.


๐Ÿ“Œ Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Strategi Tirto Adi Bimbing Sekolah Swasta Menjadi School of Excellence

Strategi Tirto Adi Bimbing Sekolah Swasta Menjadi School of Excellence

Dr. Drs. Ng. Tirto Adi, selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo (2021‑2026), menyampaikan materi tentang cara mengangkat sekolah swasta menjadi institusi berstandar keunggulan pada Rapat Kerja 2026 MKKS SMP Swasta Sidoarjo yang digelar di Hotel Arayana, Trawas, Mojokerto, Rabu 9 September 2026.

Dalam pembukaannya, Tirto Adi mengaitkan kualitas pendidikan dengan analogi sumur: bila air sumur tidak pernah dipompa, airnya akan menjadi keruh dan tidak layak pakai. Sebaliknya, sumur yang terus dimanfaatkan akan tetap jernih bahkan menumbuhkan sumber air baru.

Tiga Model Sekolah Unggul

Menurutnya, terdapat tiga tipe sekolah yang dapat dikategorikan unggul. Tipe pertama menonjolkan kualitas peserta didik sejak masuk (raw input), namun belum tentu proses belajar mengajarnya sebanding. Tipe kedua menekankan sarana dan fasilitas lengkap, seperti lapangan tenis, arena berkuda, kolam renang, asrama, ruang kelas ber‑AC, serta media pembelajaran canggih; model ini biasanya menarik keluarga berpendapatan menengah ke atas.

Jika sekolah tidak mampu bersaing pada dua aspek di atas, ia dapat mengadopsi tipe ketiga, yaitu keunggulan pada proses pembelajaran. Tirto Adi mencontohkan bagaimana para kiai berhasil mengubah siswa dengan latar belakang biasa atau rendah menjadi lulusan berkualitas tinggi melalui metode pembelajaran yang terstruktur.

Berani Berinovasi

Ia menekankan pentingnya menjadi pionir: sekolah harus menciptakan inovasi yang belum dimiliki institusi lain, bukan sekadar meniru. Hal ini mencakup penerapan kurikulum yang relevan, penggunaan pendekatan deep learning, serta pengembangan modul ajar yang dikembangkan secara internal.

“Jangan puas dengan standar yang ada, analisis konteks lingkungan sekolah Anda, dan rancang pembelajaran yang menghasilkan lulusan lebih kompeten,” ujar Tirto Adi.

Keunikan yang dimiliki tiap sekolah hendaknya dibahas bersama yayasan dan tenaga pengajar, kemudian dijadikan fokus utama yang dikerjakan secara konsisten.

Sabar dan Istiqomah

Dalam menutup sesi, ia mengingatkan para pengelola sekolah swasta untuk tetap tenang menghadapi persaingan. “Percayalah, sekolah Anda akan berkembang pada waktunya; kesabaran dan konsistensi adalah kunci,” kata Tirto Adi.

Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya sekolah yang kondusif, kepemimpinan situasional, serta kemampuan kepala sekolah mengenali karakter guru untuk mencegah konflik internal.


๐Ÿ“Œ Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Dari Mercator hingga Equal Earth

Dari Mercator hingga Equal Earth

Peta tidak mengubah bentuk Bumi, melainkan cara kita memandangnya. Pilihan proyeksi yang dipakai dapat menyoroti atau menyamarkan ukuran wilayah, sehingga memengaruhi persepsi geografis publik.

PBB Dorong Pembaruan Proyeksi Peta

Pada 4 September, Majelis Umum Perserikatan Bangsa‑Bangsa menyetujui resolusi yang menganjurkan penggunaan proyeksi yang menyeimbangkan luas benua, seperti Equal Earth, khususnya dalam konteks pendidikan. Resolusi tersebut memperoleh dukungan 164 negara, ditolak satu negara, dan enam negara abstain. Negara kecil Togo memelopori inisiatif ini dengan kampanye daring, situs khusus, dan jajak pendapat untuk menekankan pentingnya peta yang menampilkan ukuran secara adil.

Keputusan ini tidak melarang penggunaan peta berbasis Mercator, namun menegaskan bahwa tidak ada satu proyeksi yang cocok untuk semua tujuan. Togo menekankan bahwa setiap proyeksi memiliki keunggulan dan keterbatasan masing‑masing.

Kelebihan dan Keterbatasan Proyeksi Mercator

Gerardus Mercator menciptakan proyeksi yang pertama kali dipublikasikan pada 1569 untuk memudahkan navigasi laut. Dalam proyeksi ini, garis lintang dan bujur menjadi lurus sehingga pelaut dapat mengikuti arah kompas dengan mudah. Namun, distorsi yang muncul semakin jelas di daerah yang jauh dari khatulistiwa; contohnya, Greenland tampak hampir seukuran Afrika, padahal wilayahnya jauh lebih kecil.

Mercator tidak dimaksudkan untuk perbandingan ukuran wilayah, melainkan sebagai alat bantu pelayaran. Menggunakan peta ini untuk menilai luas benua ibarat mengukur beras dengan penggaris; alatnya tidak salah, melainkan pengguna yang keliru memilih konteks.

Sejarah Kartografi dari Ptolemy hingga al‑Idrisi

Sebelum Mercator, tradisi kartografi telah berkembang sejak era Ptolemy. Pada abad ke‑12, ilmuwan Muslim al‑Idrisi menggabungkan pengetahuan Yunani, laporan pelancong, dan observasi lapangan dalam sebuah karya besar yang memuat sekitar 70 peta. Uniknya, peta al‑Idrisi menempatkan selatan di bagian atas dan menjadikan Mekah sebagai titik pusat, menantang konvensi barat yang menempatkan utara di atas.

Perbedaan orientasi tersebut mengajarkan bahwa peta selalu mencerminkan pilihan budaya dan tujuan pembuatnya, bukan sekadar representasi objektif dunia.

Distorsi vs Persepsi

Ketika sebuah proyeksi yang dirancang untuk navigasi dipakai dalam konteks lain, distorsi matematis dapat berubah menjadi bias persepsi. Penggunaan luas yang tidak proporsional membuat Afrika tampak lebih kecil dan wilayah kutub tampak membesar, yang pada gilirannya memengaruhi cara orang menilai pentingnya benua‑benua tersebut.

Keputusan PBB menyoroti bahwa peta tidak sekadar alat teknis, melainkan media yang membentuk cara generasi muda memahami dunia, membentuk imajinasi, dan memengaruhi persepsi kolektif.

Implikasi untuk Pendidikan di Indonesia

Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di sekitar khatulistiwa, seringkali muncul sebagai sekumpulan pulau yang tersebar jauh di peta dunia. Jika peta yang menekankan kesetaraan luas digunakan di kelas, siswa dapat lebih realistis menilai jarak dan ukuran wilayah, tanpa terdistorsi oleh proyeksi yang menonjolkan wilayah tinggi lintang.

Meskipun tidak menyelesaikan semua tantangan, peta yang menampilkan proporsi area secara akurat dapat membantu pelajar menumbuhkan gambaran skala yang lebih tepat tentang negara mereka.

Menumbuhkan Literasi Peta di Sekolah

Pembelajaran peta sebaiknya tidak hanya menanyakan nama negara atau ibu kota, tetapi juga menekankan tujuan pembuatan peta tersebut. Untuk navigasi, pilih proyeksi yang mempertahankan arah; untuk perbandingan ukuran, gunakan proyeksi setara luas; untuk analisis wilayah detail, pilih proyeksi yang sesuai dengan wilayah fokus.

Setiap proyeksi memiliki kompromi, dan pemahaman tentang pilihan tersebut melatih siswa menjadi pembaca kritis tidak hanya terhadap peta, tetapi juga grafik, foto, dan statistik yang sering kali menyajikan data secara selektif.

Intinya, gambar yang tampak objektif tetap dapat memuat bias; belajar mengenali batasannya adalah keterampilan geografi paling berharga bagi generasi mendatang.


๐Ÿ“Œ Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari tagar.co
Kerjasama Muhammadiyah dan Global Peace Foundation Tingkatkan Inisiatif Perdamaian di Indonesia

Kerjasama Muhammadiyah dan Global Peace Foundation Tingkatkan Inisiatif Perdamaian di Indonesia

Pusat Muhammadiyah menyambut delegasi Global Peace Foundation pada 17 September di kantor pusatnya yang berlokasi di Jakarta.

Kunjungan ini menandai kelanjutan hubungan dua organisasi yang telah lama berkolaborasi dalam forum‑forum serta kegiatan yang mendorong nilai perdamaian dan memperkuat hubungan antarmanusia.

Ketua Pusat Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, menyatakan bahwa Global Peace Foundation kerap mengundang Muhammadiyah untuk berpartisipasi dalam pertemuan yang menekankan pentingnya membangun kedamaian dunia tanpa membedakan agama, suku, atau budaya.

Menurutnya, program‑program perdamaian yang dijalankan GPF telah tersebar di banyak negara, terutama di kawasan Afrika, dan kini mulai diadaptasi di Asia, termasuk Indonesia.

Agenda dan Rencana Kerjasama Kedepan

Di Indonesia, fokus utama melibatkan generasi muda melalui kampanye perdamaian yang dirancang untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya hidup damai di tengah keragaman.

Kunjungan kali ini difokuskan pada pembahasan program‑program yang berpotensi dilaksanakan bersama pada masa mendatang.

Pertemuan tersebut membuka ruang dialog lebih luas untuk kolaborasi di bidang perdamaian, kemanusiaan, serta mempererat hubungan lintas agama dan latar belakang sosial.


๐Ÿ“Œ Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Kiai Ahmad Dahlan Tegaskan Muhammadiyah Tetap Gerakan Keagamaan, Bukan Partai Politik

Kiai Ahmad Dahlan Tegaskan Muhammadiyah Tetap Gerakan Keagamaan, Bukan Partai Politik

Sejak berdiri, Muhammadiyah menegaskan dirinya sebagai organisasi sosial‑keagamaan yang tidak beralih menjadi kekuatan politik, sebuah prinsip yang telah diwariskan oleh Kiai Ahmad Dahlan.

Sebagai ormas berskala nasional, Muhammadiyang kerap mendapat ajakan untuk terjun ke arena politik. Godaan tersebut bukan fenomena baru; sejak era Kiai Ahmad Dahlan, upaya mengubah Muhammadiyah menjadi entitas politik sudah pernah muncul berulang kali.

Ketua Umum Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais, menyampaikan bahwa Kiai Dahlan telah berulang kali dihadapkan pada rayuan, baik secara halus maupun terbuka, untuk menjadikan organisasi sebagai platform politik.

Rais menekankan bahwa konsistensi Muhammadiyah dalam bidang keagamaan menjadi bukti kuat komitmen Kiai Dahlan agar organisasi tetap relevan sepanjang masa.

"Berapa kali pula Kiai Dahlan diminta mengalihkan fokus ke gerakan politik, yang kala itu lebih dikenal sebagai gerakan kebangsaan," ujar Ahmad Dahlan Rais pada 15 September lalu dalam perayaan Dies Natalis Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT).

Meskipun demikian, Muhammadiyah tidak menutup peluang bagi kadernya yang berpotensi masuk politik, asalkan tidak menjadikan organisasi sebagai alat pribadi untuk meraih keuntungan.

Kontribusi Non‑Politik untuk Umat dan Bangsa

Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah tetap berfokus pada pelayanan sosial tanpa mengadopsi identitas politik praktis. Peran organisasi dalam memajukan masyarakat tetap signifikan.

Contohnya, Muhammadiyah tercatat sebagai ormas pribumi pertama yang mendirikan rumah sakit. Ide pendirian rumah sakit tersebut awalnya dikemukakan oleh Kiai Sudja, meski sempat ditertawakan pada masa itu.

Visi pendirian rumah sakit berlandaskan nilai tolong‑menolong yang bersumber dari Al‑Qur’an, serta ditujukan melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang.

Menurut Ahmad Dahlan Rais, tenaga medis pertama yang bekerja di rumah sakit Muhammadiyah adalah dokter‑dokter Belanda, pada masa ketika Belanda masih menjadi penjajah Indonesia. "Kerjasama kemanusiaan itu sudah terjalin sejak dulu," tegasnya.

Selain layanan kesehatan, Muhammadiyah sejak pra‑kemerdekaan juga merencanakan pendirian perguruan tinggi, yang pada waktu itu disebut “universited”, sebuah gagasan yang digagas oleh Kiai Hisyam.

Hingga kini, setelah 114 tahun eksistensi, Muhammadiyah terus memberikan kontribusi di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi, tanpa mengubah identitasnya menjadi organisasi politik.


๐Ÿ“Œ Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Aisyiyah Sikka Selamatkan Pulau Palue: Bantuan Darurat untuk Penyintas Gempa NTT

Aisyiyah Sikka Selamatkan Pulau Palue: Bantuan Darurat untuk Penyintas Gempa NTT

Tim relawan Aisyiyah dari Kabupaten Sikka menembus lautan untuk menyalurkan bantuan kepada warga Pulau Palue, wilayah yang paling parah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur pada Agustus 2026.

Perjalanan Panjang Melintasi Laut Flores

Rombongan berangkat dari Pelabuhan Kewapante, Maumere, dan menempuh enam jam perjalanan feri sebelum tiba di Pelabuhan Pulau Palue. Karena kondisi geografis pulau yang berbukit dan berada dalam zona vulkanik Gunung Rokatenda yang masih aktif, bantuan selanjutnya harus dipindahkan ke perahu kecil dan dibawa berjalan kaki menuruni medan terjal selama 30–45 menit.

Distribusi Bantuan ke Empat Desa

Setelah menembus jalur darat, para relawan menyerahkan paket bantuan ke desa‑desa Kesokoja (Dusun Awa Male), Natakuni (Dusun Cua), Nitunglea (Dusun Nitung), dan Tuanggeo (Dusun Okacere). Bantuan tidak hanya berupa kebutuhan pokok seperti tenda, tikar, selimut, dan sembako, melainkan juga perlengkapan khusus untuk perempuan, anak, dan balita, termasuk pembalut, minyak kayu putih, minyak telon, serta air siap minum.

Kebutuhan Mendesak dan Harapan untuk Hunian Sementara

Menurut ketua PDA Kabupaten Sikka, Fitriah, hampir 90 % rumah di Pulau Palue mengalami kerusakan berat, sehingga warga sangat bergantung pada bantuan yang bersifat hak penyintas. Ia menekankan pentingnya dukungan pemerintah dan lembaga lain untuk menyediakan tempat tinggal sementara menjelang musim hujan yang akan datang.

Walaupun mayoritas penduduk Pulau Palue bukan beragama Islam, mereka menyambut baik kehadiran Aisyiyah dan Muhammadiyah, mengapresiasi kepedulian lintas agama yang langsung menjawab kebutuhan mereka.

Keberhasilan distribusi bantuan ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara organisasi kemanusiaan dan komunitas lokal dapat mengatasi tantangan logistik di daerah terpencil, sekaligus menegaskan pentingnya respons cepat dalam menghadapi bencana alam.


๐Ÿ“Œ Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Muhammadiyah Gelar Pelatihan Kepemimpinan Sekolah di China, 32 Peserta Dari Seluruh Indonesia

Muhammadiyah Gelar Pelatihan Kepemimpinan Sekolah di China, 32 Peserta Dari Seluruh Indonesia

Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan program pelatihan tentang manajemen dan kepemimpinan sekolah selama lima hari di tiga kota di Tiongkok, yakni Guangzhou, Foshan, dan Shenzhen, pada 14‑18 September 2026.

Rangkaian Kegiatan dan Tujuan Strategis

Sebanyak 32 orang yang terdiri atas pimpinan Majelis Dikdasmen, PNF, serta kepala sekolah dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti rangkaian pelatihan ini. Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Majelis Dikdasmen‑PNF dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di Indonesia, dengan harapan meningkatkan kapasitas manajerial, wawasan tentang pendidikan vokasi, serta menelaah praktik‑praktik inovatif yang berkembang di China.

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF, Didik Suhardi menekankan pentingnya menjadikan pengalaman ini sebagai pembelajaran strategis bagi seluruh peserta. Ia mengajak peserta untuk mengamati, mempelajari, dan menyesuaikan praktik‑praktik baik yang ditemui di China agar selaras dengan nilai, karakter, dan kebutuhan pendidikan Muhammadiyah di tanah air.

Wakil Ketua Majelis Dikdasmen‑PNF sekaligus pemimpin delegasi, R. Alpha Amirrachman menambahkan bahwa program ini diharapkan memperkuat jaringan pendidikan Muhammadiyah, menjadikannya lebih unggul, adaptif, serta kompetitif di tingkat global tanpa mengorbankan identitas dan nilai fundamental organisasi.

Kunjuungan Lapangan di Tiga Kota

Selama lima hari, peserta mengunjungi beberapa institusi pendidikan: di Guangzhou mereka menelusuri Guangzhou Xiehe Middle School dan Guangzhou Huimin Primary School; di Foshan, mereka menyaksikan operasi Shunde Leung Kau Kui Vocational and Technical School yang menonjolkan pendidikan vokasi menengah; serta di Shenzhen, kunjungan ke Shixia School dan Shenkang Campus of Hongling Education Group melengkapi gambaran tentang model pembelajaran dari tingkat dasar hingga menengah.

Beragam kunjungan tersebut memberi peserta kesempatan untuk membandingkan pendekatan kepemimpinan, tata kelola institusi, pengembangan sumber daya manusia, serta lingkungan belajar, sehingga dapat merumuskan rekomendasi yang relevan bagi konteks pendidikan Muhammadiyah.

Dengan mengintegrasikan temuan dari China, diharapkan reformasi pendidikan Muhammadiyah dapat lebih dinamis, responsif, dan selaras dengan tantangan global sambil tetap menjaga keunikan nilai-nilai Islam yang menjadi dasar.


๐Ÿ“Œ Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id