Al-Ma'un
Muhammadiyah Rilis Roadmap Kedaulatan Pangan 2028 dengan Varietas Padi Mentari 1

Muhammadiyah Rilis Roadmap Kedaulatan Pangan 2028 dengan Varietas Padi Mentari 1

Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pusat Muhammadiyah sedang menyiapkan peta jalan kedaulatan pangan yang akan menjadi kerangka kerja utama hingga tahun 2028. Inisiatif ini menitikberatkan pada pengembangan pertanian berkelanjutan, varietas tanaman unggul, serta penyediaan benih berkualitas tinggi.

Strategi Menghadapi Tantangan Demografis

Ketua MPM Pusat, M. Nurul Yamin, menyatakan bahwa langkah tersebut diambil dalam rangka menanggapi proyeksi pertumbuhan penduduk global yang diperkirakan mencapai 9–10 miliar jiwa pada 2050, naik dari sekitar 8,3 miliar saat ini. Di dalam negeri, populasi Indonesia diperkirakan akan menyentuh 287 juta jiwa pada 2026, menambah beban kebutuhan pangan nasional.

Yamin menekankan, peningkatan jumlah penduduk menuntut produksi pangan yang lebih tinggi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Ia menambahkan, “Kita harus memanfaatkan sumber daya secara lebih efisien dan tetap menjaga keberlanjutan ekosistem pertanian.”

Fokus pada Pertanian Berkelanjutan

Menurut MPM, sektor pertanian Indonesia tengah dihadapkan pada alih fungsi lahan, frekuensi ekstrem cuaca seperti kekeringan dan banjir, serta penurunan kualitas tanah. Oleh karena itu, pertanian berkelanjutan dijadikan landasan untuk memastikan produksi pangan tidak hanya mencukupi kebutuhan kini, tetapi juga melindungi sumber daya alam bagi generasi mendatang.

Model pertanian berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi usaha tani, menambah nilai ekonomi, memperbaiki kesejahteraan petani, serta memperluas akses masyarakat terhadap pangan bergizi.

Varietas Unggul dan Benih Bermutu sebagai Kunci

Yamin menegaskan bahwa kedaulatan pangan tidak hanya soal luas lahan, melainkan juga inovasi teknologi. Pengembangan varietas unggul dan penyediaan benih berkualitas menjadi pilar utama. Faktor genetik melalui varietas unggul dipandang sebagai dasar peningkatan produktivitas tanaman, sementara benih berkualitas memastikan potensi genetik tersebut dapat terwujud di lapangan.

Upaya ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mendukung pertanian yang ramah lingkungan dan meningkatkan ketahanan pangan.

Pengenalan Padi Mentari 1

Sebagai wujud konkret, Muhammadiyah melalui MPM meluncurkan varietas padi bernama Mentari 1 pada Jambore Nasional Jamaah Tani Muhammadiyah (Jamnas I JATAM) 2025 di Kebumen, Jawa Tengah. Varietas ini mencatat rata‑rata hasil panen 6,7 ton per hektare gabah kering giling (GKG) dengan potensi mencapai 9,7 ton per hektare. Selain produktivitas tinggi, Mentari 1 memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dan kadar amilosa yang lebih rendah dibandingkan varietas konvensional.

Pengembangan Mentari 1 diharapkan memperkuat kemandirian petani, meningkatkan pendapatan, dan menumbuhkan ekosistem pertanian yang lebih resilient.

Menuju 2028

MPM menargetkan bahwa melalui pemupukan varietas unggul seperti Mentari 1 dan penyediaan benih berkualitas, Indonesia dapat memperkuat kedaulatan pangan menjelang 2028. Yamin menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen Muhammadiyah untuk menjadi aktor utama dalam memastikan bangsa memiliki kemampuan produksi pangan yang mandiri dan berkelanjutan.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Munas Tarjih XXXIII Surabaya Angkat Lima Agenda Strategis dan Menyambung Legasi KH Mas Mansur

Munas Tarjih XXXIII Surabaya Angkat Lima Agenda Strategis dan Menyambung Legasi KH Mas Mansur

Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-33 Muhammadiyah digelar di Universitas Muhammadiyah Surabaya, mempertemukan lebih dari 320 delegasi dari seluruh Indonesia serta perwakilan Malaysia, Singapura, dan Kamboja. Sidang ini menitikberatkan lima agenda utama yang menyasar penguatan pemahaman Islam, isu sosial, dan tantangan kebangsaan.

Agenda Strategis Munas Tarjih XXXIII

Kelima topik yang dibahas meliputi Fikih Lanjut Usia, Fikih Kedaulatan Pangan, Risalah Akidah Islam, Risalah Akhlak Islam Praktis, serta pengembangan Himpunan Putusan Tarjih (HPT). Setiap agenda dipimpin oleh komisi khusus untuk menghasilkan rumusan kebijakan yang dapat diterapkan di lapangan.

Fikih Lanjut Usia menelaah tantangan spiritual dan sosial yang dihadapi lansia, memperluas pembahasan yang sebelumnya diangkat oleh Agus Taufiqurrahman. Fikih Kedaulatan Pangan menyoroti kebutuhan Indonesia untuk menggabungkan potensi sumber daya alam dengan kebijakan pangan yang kuat, guna menciptakan ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.

Dalam Risalah Akidah Islam, Munas berupaya merumuskan pemahaman akidah yang berlandaskan Al‑Qur’an dan Sunnah sekaligus mencerminkan semangat Islam Berkemajuan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah. Risalah Akhlak Islam Praktis merupakan lanjutan dari risalah akhlak filosofis, dengan tujuan mempraktikkan nilai‑nilai moral Islam dalam kehidupan sehari‑hari.

Agenda kelima menitikberatkan pada pengembangan Himpunan Putusan Tarjih, termasuk kajian tentang bacaan taswib dalam azan Subuh (al‑shalātu khairum minan naum) sebagai upaya menjaga relevansi produk pemikiran tarjih bagi umat.

Menjaga Warisan KH Mas Mansur

Surabaya dipilih karena menjadi tempat kelahiran KH Mas Mansur, pahlawan nasional sekaligus Ketua Majelis Tarjih pertama pada 1927. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat, Ustadi Hamsah, menekankan bahwa pertemuan ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan KH Mas Mansur dalam menghadapi tantangan zaman.

Serangkaian kegiatan tambahan, seperti seminar kedaulatan pangan, diskusi legasi KH Mas Mansur, serta "Muhammadiyah Heritage Walk" yang menelusuri jejak beliau dari masjid, rumah, hingga makam, memperkaya pengalaman peserta.

Harapan dan Penutup

Ustadi Hamsah menutup Munas dengan harapan keputusan yang dihasilkan dapat memberi kontribusi signifikan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia, sekaligus menegaskan peran Muhammadiyah sebagai pemandu dalam perjalanan menuju masa depan yang lebih unggul dan bermartabat.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
ChatHPT Diluncurkan di Munas Tarjih XXXIII: AI Bantu Akses Keilmuan Muhammadiyah

ChatHPT Diluncurkan di Munas Tarjih XXXIII: AI Bantu Akses Keilmuan Muhammadiyah

Dalam rangka Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-33 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surabaya pada 5 November, Muhammadiyah memperkenalkan ChatHPT, asisten berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk mempermudah pencarian dan pemahaman materi keagamaan.

Peluncuran Resmi oleh Pimpinan Tertinggi

Acara dimulai dengan penekanan tombol peluncuran oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir bersama Ketua PP Muhammadiyah Syamsul Anwar, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Ustadi Hamsah, Ketua Pimpinan Wilayah Jawa Timur Sukadiono, dan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Prof. Mundakir.

Fungsi dan Manfaat ChatHPT

ChatHPT berperan sebagai asisten digital yang mampu menjawab pertanyaan seputar masalah keagamaan dengan merujuk pada dokumen resmi Majelis Tarjih. Pengguna—baik kader Persyarikatan, akademisi, mubaligh, maupun publik umum—dapat mengakses putusan, fatwa, dan literatur keagamaan secara cepat melalui percakapan interaktif.

Setiap respons yang diberikan disertai referensi sumber, memungkinkan pengguna menelusuri asal usul penjelasan secara transparan.

Teknologi AI sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti

Walaupun memanfaatkan teknologi AI terkini, ChatHPT diposisikan semata‑mata sebagai sarana pendukung. Penetapan fatwa dan keputusan akhir tetap berada pada otoritas Majelis Tarjih serta lembaga keilmuan yang berwenang.

Harapan Penggunaan Luas

Dengan hadirnya platform ini, diharapkan akses terhadap khazanah keilmuan Muhammadiyah menjadi lebih inklusif, memudahkan warga Muhammadiyah, peneliti, serta masyarakat luas yang memerlukan panduan keagamaan yang terpercaya.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Haedar Nashir Ungkap Transformasi Tauhid dan Fikih Kehidupan dalam Munas Tarjih XXXIII

Haedar Nashir Ungkap Transformasi Tauhid dan Fikih Kehidupan dalam Munas Tarjih XXXIII

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, membuka Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-33 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surabaya pada 5 November lalu. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa warisan pemikiran Islam yang ditinggalkan para pendahulu harus terus diadaptasi untuk menjawab tantangan umat dan dinamika zaman.

Pilar-Pilar Pemikiran Muhammadiyah

Menurut Haedar, Muhammadiyah dapat dipahami sebagai sebuah gerakan yang terstruktur dengan tiga pilar utama: agama, ideologi, dan sistem pergerakan. Fondasi keagamaan berakar pada ajaran Kiai Haji Ahmad Dahlan, mencakup tujuh ajaran pokok, 17 kelompok ayat Al‑Qur’an beserta aplikasinya, serta penekanan pada Surah Al‑Ma’un dan Al‑‘Ashr. Landasan teologisnya merujuk pada Surah Ali ‘Imran ayat 104 dan 110, yang menjadi batu loncatan bagi perkembangan pemikiran Islam modern dalam Muhammadiyah.

"Inilah dasar yang memungkinkan para ahli menjelaskan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam modern," ujar Haedar.

Warisan Pemikiran dan Tokoh-Tokoh Kunci

Haedar menyoroti peran KH Mas Mansur, tokoh kelahiran Surabaya, yang meluncurkan program 12 Langkah (1938–1940) dan merumuskan “Masalah Lima” pada 1935. Gagasan‑gagasan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembaruan keagamaan di lingkungan organisasi.

Ia juga mengutip Prof. Mukti Ali mengenai latar berdirinya Majelis Tarjih pada 1928, menekankan dua hal: munculnya ijtihad sebagai respons terhadap akal pikiran di hadapan Al‑Qur’an dan Hadis, serta sikap non‑mazhab Muhammadiyah yang tidak mengikat diri pada satu mazhab tertentu sekaligus tidak menolaknya.

Transformasi Tauhid yang Integratif

Haedar menjelaskan bahwa pemahaman tauhid dalam Muhammadiyah kini bersifat multidimensi. Tauhid tidak hanya mencakup hubungan manusia dengan Allah (hablum min Allah), melainkan juga menumbuhkan tanggung jawab sosial (hablum min annas) serta kepedulian terhadap alam (hablum min al‑‘Alam). "Dari hubungan dengan Allah, kemudian muncul kewajiban terhadap sesama manusia dan lingkungan, sebagai wujud peran khalifah di bumi," tegasnya.

Dengan pendekatan ini, tauhid dipandang sebagai jembatan antara dimensi ilahiah, insaniah, dan alamiah, mendorong umat Islam memperkuat spiritualitas sekaligus mengemban tugas sosial‑ekologis.

Pengembangan Akhlak dan Fikih Kehidupan

Haedar menyebutkan bahwa Muhammadiyah sudah memiliki landasan filosofis mengenai risalah akhlak, namun kini diperlukan pengembangan akhlak praktis yang relevan dengan realitas sehari‑hari. Pada Munas Tarjih XXXIII, ia menekankan pentingnya Fikih Lansia yang inklusif, mengingat banyak senior dari kalangan ekonomi menengah ke bawah perlu masuk dalam perumusan hukum.

"Jangan sampai Fikih Lansia hanya melayani kalangan elite; semua kelompok lansia harus terakomodasi," ujarnya.

Selanjutnya, Haedar mengajak Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah untuk memperluas cakupan fikih menjadi fiqhul hayat, yaitu fikih yang membahas seluruh aspek kehidupan manusia, tidak terbatas pada ibadah atau hubungan antarmanusia.

Ia merujuk pada Qur'an Surah Al‑Baqarah ayat 29 yang menyatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu di bumi untuk kepentingan manusia. Menurut Haedar, ayat ini mengandung pandangan kosmologis Al‑Qur’an yang menekankan mandat manusia untuk mengelola sumber daya alam secara bertanggung jawab.

"Interpretasinya luar biasa; Islam memandang kehidupan secara positif dan menuntut manusia mengolah dunia serta isinya dengan bijak," pungkasnya.

Dengan menumbuhkan fiqhul hayat, Muhammadiyah diharapkan dapat memberikan pedoman yang relevan bagi tantangan zaman, sekaligus menegaskan peran Islam sebagai sumber solusi bagi masalah sosial, lingkungan, dan etika.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Muhammadiyah Dorong Pendampingan Lansia agar Tetap Sehat, Mandiri, dan Bermartabat | Muhammadiyah

Muhammadiyah Dorong Pendampingan Lansia agar Tetap Sehat, Mandiri, dan Bermartabat | Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURABAYA – Meningkatnya usia harapan hidup perlu diikuti perhatian yang lebih serius terhadap kualitas hidup kelompok lanjut usia. Persoalan lansia tidak cukup ditangani melalui layanan kesehatan fisik, tetapi juga membutuhkan pendampingan mental, sosial, dan spiritual.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman dalam Pengajian Tarjih edisi spesial rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Rabu (4/11).

Agus menjelaskan, proses menua merupakan perjalanan biologis yang menyebabkan penurunan kapasitas tubuh. Kekuatan fisik, daya tahan tubuh, dan fungsi organ secara bertahap mengalami perubahan. Kondisi ini membuat kelompok lanjut usia lebih rentan terhadap berbagai penyakit.

Ia mengingatkan bahwa bertambahnya usia perlu diiringi kesiapan untuk menjaga kesehatan dan mempersiapkan kehidupan spiritual. Memasuki usia 60 tahun, misalnya, seseorang perlu semakin memperhatikan kondisi tubuh, kebiasaan hidup, dan kualitas ibadahnya.

Agus menyebut sejumlah penyakit yang banyak dialami kelompok lansia, seperti hipertensi, diabetes, gangguan otot dan sendi, penyakit jantung, stroke, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, penyakit paru, demensia, dan gagal ginjal.

Karena itu, ia menekankan pentingnya mengendalikan faktor risiko sejak dini. Hipertensi dan diabetes perlu dipantau secara rutin. Pola makan, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, kualitas tidur, serta pengelolaan emosi juga perlu mendapat perhatian.

Agus secara khusus mengingatkan bahaya hipertensi yang tidak terkendali karena dapat meningkatkan risiko stroke dan komplikasi pada organ lain. Ia juga mengajak masyarakat mengendalikan kemarahan. Menurutnya, sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara emosi negatif, termasuk kemarahan, dengan meningkatnya risiko gangguan kardiovaskular.

Dalam hal pemenuhan kebutuhan makanan, Agus mengaitkan upaya menjaga kesehatan dengan prinsip halalan thayyiban. Makanan halal berkaitan dengan ketentuan syariat, sedangkan thayyib berkaitan dengan kebaikan dan dampak makanan terhadap kondisi tubuh.

Ia mencontohkan, makanan yang secara hukum halal belum tentu sesuai dikonsumsi oleh setiap orang. Penderita diabetes perlu mengendalikan konsumsi gula, sedangkan penderita gangguan ginjal harus memperhatikan jenis dan jumlah makanan tertentu sesuai kondisi medisnya.

“Halal itu secara ilmu agama jelas. Thayyib nanti harus ilmu pengetahuan yang menjelaskan,” terangnya.

Lebih jauh, Agus menyoroti dimensi sosial dalam kehidupan lansia. Menurutnya, kebiasaan berkumpul, mengikuti pengajian, kegiatan jamaah, dan aktivitas organisasi dapat membantu menjaga fungsi kognitif serta mengurangi risiko kesepian.

Ia mengingatkan bahwa seseorang yang secara fisik terlihat sehat belum tentu memiliki kesejahteraan mental dan sosial. Lansia yang jarang berinteraksi dengan keluarga maupun lingkungan sekitar berisiko mengalami kesepian dan gangguan psikologis.

Karena itu, keluarga dan masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang mendukung kehidupan lansia. Perhatian kepada orang tua yang telah renta harus diwujudkan melalui pelayanan dan pendampingan yang baik.

Agus juga menyinggung pengembangan program Muhammadiyah Senior Care yang digerakkan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah. Program ini menjadi salah satu ikhtiar Muhammadiyah dalam membangun pelayanan bagi kelompok lanjut usia.

Ia menjelaskan bahwa penggunaan istilah senior care mencerminkan pendekatan pelayanan yang tetap berupaya mempertahankan hubungan lansia dengan lingkungan keluarganya. Muhammadiyah tidak ingin orang tua yang memasuki usia lanjut langsung tercerabut dari akar keluarga dan kehidupan sosialnya.

“Semangat kita jangan sampai orang tua itu tercerabut dari akar keluarga. Kecuali memang dia tidak punya siapa pun, maka Muhammadiyah tetap punya tanggung jawab,” jelasnya.

Selain itu, Agus mengapresiasi inisiatif sejumlah organisasi Aisyiyah yang telah mengembangkan pesantren dan sekolah lansia. Program tersebut memberikan ruang bagi para lansia untuk tetap belajar, berinteraksi, menjaga kesehatan, dan mempersiapkan kehidupan spiritual.

Salah satu materi yang mendapat perhatian ialah persiapan menghadapi kematian atau psikologi kematian. Lansia diajak membangun kesiapan spiritual agar dapat menyambut akhir kehidupan dengan keimanan dan harapan memperoleh husnul khatimah.

Agus menegaskan, memuliakan orang tua merupakan bagian penting dari ajaran Islam. Ia mengingatkan bahwa kesempatan merawat orang tua yang telah renta semestinya dipandang sebagai jalan untuk memperoleh kebaikan dan pahala.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Agus Taufiqurrahman Tekankan Kesehatan sebagai Bekal Amal Saleh dalam Pengajian Tarjih

Agus Taufiqurrahman Tekankan Kesehatan sebagai Bekal Amal Saleh dalam Pengajian Tarjih

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, menekankan pentingnya menjadikan kesehatan sebagai bekal dalam menunaikan amal saleh ketika menyampaikan sambutan pada Pengajian Tarjih edisi spesial, rangkaian Musyawarah Nasional Tarjih XXXIII yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Rabu (4/11).

Kesehatan: Nikmat yang Sering Terlupakan

Ia membuka kajian dengan mengingatkan hadis Nabi Muhammad Saw tentang dua anugerah yang cenderung membuat manusia lengah, yaitu kesehatan dan waktu luang. Kedua hal ini sering dianggap remeh karena hadir secara rutin dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, kemampuan bernapas lega, menikmati makanan, dan melaksanakan aktivitas adalah karunia yang nilainya tak ternilai. Seseorang yang pernah mengalami gangguan pernapasan, misalnya, akan menyadari betapa berharganya udara yang selama ini dihirup tanpa kesulitan.

Tanpa tubuh yang sehat, di manakah nilai uang?

Menurut Agus, kepedulian terhadap kesehatan seharusnya seimbang dengan kepedulian terhadap harta. Banyak orang rela mengeluarkan biaya besar untuk membeli rumah, mobil, atau pakaian, namun menganggap pengeluaran untuk menjaga kesehatan sebagai beban mahal.

Ia mengutip lagi hadis tentang lima perkara sebelum lima perkara, menekankan pentingnya memanfaatkan masa sehat sebelum sakit melanda. Pesan tersebut mengajak umat memanfaatkan kondisi fit untuk menambah amal kebaikan.

Agus menegaskan bahwa aktivitas menjaga kesehatan dapat menjadi ibadah bila didasari niat yang tulus. Olahraga, pola makan seimbang, serta perawatan kebugaran dapat dihitung sebagai amal saleh bila ditujukan untuk melindungi amanah Allah dan mempersiapkan diri menunaikan ketaatan.

Waktu sehat tidak ibadah, ketika mau ibadah sudah sakit. Harusnya ketika sehat, ibadahnya semakin giat.

Ia menjelaskan bahwa kesehatan terbagi menjadi empat dimensi yang saling terkait: fisik, mental, sosial, dan spiritual. Seseorang belum dapat disebut sehat secara menyeluruh bila hanya satu dimensi yang baik sementara yang lain terganggu.

Contohnya, masalah sosial seperti utang atau konflik hubungan dapat memicu tekanan psikologis yang pada gilirannya memengaruhi kondisi fisik. Sebaliknya, penyakit fisik seperti stroke dapat mengganggu kesehatan mental, interaksi sosial, bahkan praktik spiritual.

Agus mengajak masyarakat untuk membangun kebiasaan hidup sehat melalui pemeriksaan rutin, pengendalian penyakit, pola makan tepat, aktivitas fisik, serta pengelolaan emosi. Ia memperingatkan agar tidak mudah mempercayai klaim pengobatan yang tidak memiliki dasar ilmiah.

Menurutnya, anggapan bahwa semua bahan herbal selalu aman dan obat medis selalu berbahaya adalah persepsi keliru. Pengobatan harus berlandaskan bukti ilmiah dan dilakukan di bawah bimbingan tenaga kesehatan yang kompeten.

Sebagai penutup, Agus mengajak peserta untuk menjadikan membaca Al‑Qur’an sebagai kebiasaan harian. Ia menyebut sejumlah studi yang menunjukkan manfaat membaca Al‑Qur’an bagi fungsi kognitif, sehingga kebiasaan tersebut sekaligus berkontribusi pada kesehatan fisik dan memperkuat dimensi spiritual.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Tarjih Award Dihadirkan untuk KH Mas Mansur: Penghormatan atas Warisan Pemikiran Muhammadiyah

Tarjih Award Dihadirkan untuk KH Mas Mansur: Penghormatan atas Warisan Pemikiran Muhammadiyah

Dalam rangka menghargai kontribusi ilmiah dan perjuangan politiknya, Muhammadiyah mempersembahkan Tarjih Award kepada KH Mas Mansur. Penghargaan ini menandai pengakuan terhadap peran penting sang ulama dalam menorehkan jejak intelektual yang terus mengilhami gerakan organisasi.

Acara Penganugerahan pada Munas Tarjih XXXIII

Pemberian Tarjih Award dilaksanakan pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-33 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surabaya pada Kamis, 11 November. Penghargaan tersebut diberikan atas sumbangsih KH Mas Mansur sebagai pionir ijtihad kolektif Muhammadiyah serta sebagai Ketua Majelis Tarjih pertama pada tahun 1927.

Ketua Majelis Tarjih sekaligus Ketua Tajdid Pusat Muhammadiyah, Ustadi Hamsah, menjelaskan bahwa pemilihan Surabaya sebagai tuan rumah Munas memiliki makna historis. Kota kelahiran KH Mas Mansur dipilih untuk menghidupkan kembali legasi sang tokoh, yang sekaligus merupakan Pahlawan Nasional dan figur sentral dalam pembentukan sistem tarjih Muhammadiyah.

“Surabaya menjadi panggung napak tilas untuk menyambungkan kembali warisan KH Mas Mansur, putra kota ini yang menorehkan dasar tarjih Muhammadiyah pada 1927,” ujar Ustadi dalam sambutannya.

Ustadi menekankan pentingnya meneruskan semangat KH Mas Mansur dalam menggerakkan Muhammadiyah dan bangsa. Ia berharap gagasan serta perjuangan sang tokoh tetap menjadi inspirasi bagi organisasi untuk terus berinovasi dan berkontribusi pada kemajuan Indonesia.

Piagam penghargaan diserahkan kepada keluarga KH Mas Mansur melalui perwakilan, Abdan Fikri. Prosesi penyerahan dipimpin oleh Ketua Umum Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir bersama Ketua Pusat Muhammadiyah Syamsul Anwar, Ustadi Hamsah, Ketua Pimpinan Wilayah Jawa Timur Sukadiono, serta Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Mundakir.

Penyerahan Tarjih Award ini menegaskan rasa terima kasih Muhammadiyah atas dedikasi KH Mas Mansur dalam merintis tradisi pemikiran keislaman. Peranannya dalam membangun landasan ijtihad kolektif menjadi komponen vital dalam sejarah tarjih, sebuah upaya Muhammadiyah merumuskan pandangan keagamaan berlandaskan Al‑Qur’an dan Sunnah.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Pendekatan Praktis untuk Memahami Hukum Islam di Era Digital

Pendekatan Praktis untuk Memahami Hukum Islam di Era Digital

Lazismu menyelenggarakan peluncuran sekaligus bedah buku Fikih Gen Z pada Kamis 5 November di Masjid At‑Taqwa, Universitas Muhammadiyah Semarang. Acara ini merupakan rangkaian penting Muhammadiyah Zakat Summit 2026 yang bertujuan mengintegrasikan pemahaman fikih dengan kebutuhan generasi muda.

Penulis buku, Ayi Yunus Rusyana, mengungkapkan bahwa karya ini lahir dari keprihatinannya terhadap tantangan yang dihadapi generasi Z dalam menginterpretasikan ibadah dan interaksi sosial sehari‑hari.

Menurutnya, generasi yang tumbuh bersama media sosial menonjolkan karakter responsif, praktis, dan mengutamakan kecepatan informasi. Karena itu, penyampaian fikih harus bertransformasi agar lebih mudah dicerna.

Beberapa isu yang disorot meliputi hukum mendengarkan musik, tata cara berpakaian seperti jilbab dan cadar, representasi makhluk hidup dalam seni, serta sensitivitas sosial terutama dalam berbagi dengan sesama.

Ayi menekankan bahwa Gen Z lebih menyukai materi singkat, aplikatif, dan menarik, sehingga metode tradisional berupa buku tebal dan hafalan tidak lagi cukup efektif.

"Pendekatan storytelling yang ringan, diperkaya contoh konkret dari kehidupan mereka, menjadi kunci keberhasilan," ujarnya sebagai Sekretaris Dewan Pengawas Lazismu Pusat.

Penerapan Fikih dalam Kegiatan Filantropi

Dalam sesi bedah, Ayi mengulas topik thaharah dan filantropi Islam, dipandu oleh Eddy Aqdhiwijaya dari Gerakan Islam Cinta, dengan partisipasi aktif peserta.

Ia menyoroti kreativitas Gen Z dalam mengemas aksi sosial melalui istilah‑istilah populer seperti giveaway, doorprize, serta kolaborasi dengan influencer untuk meningkatkan partisipasi masyarakat.

Kreativitas tersebut dipandang positif selama diarahkan pada tujuan kemanusiaan, sekaligus ditekankan perlunya kerja sama dengan lembaga filantropi yang kredibel.

"Gen Z harus mampu membedakan antara infak sukarela, sedekah yang bersifat universal, dan zakat yang memiliki ketentuan khusus," tegas dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Ayi juga mengingatkan pentingnya verifikasi pihak penyelenggara kegiatan sosial agar penyaluran dana zakat tetap sesuai syariah.

Diskusi berlanjut ke pertanyaan praktis, seperti kebiasaan sebagian Gen Z yang menganggap wudu cukup dengan membasahi tubuh, serta tantangan menjalankan salat di tengah kesibukan.

Ia menegaskan bahwa salat lima waktu tidak sekadar kewajiban ritual, melainkan ruang jeda spiritual yang menenangkan hati dan pikiran; meninggalkannya berimplikasi pada konsekuensi hukum Islam.

Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, menambahkan pentingnya budaya membaca untuk menumbuhkan kesadaran fikih di kalangan muda.

Wakil Rektor III Unimus, Eny Wanaryati, menyambut baik peluncuran buku, menilai tema tersebut relevan bagi mahasiswa dalam memperluas wawasan keislaman.

Acara ini menjadi bagian integral dalam agenda Muhammadiyah Zakat Summit 2026 yang akan dibuka pada Jumat 6 November, dengan harapan memperkuat gerakan zakat nasional.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id
Majelis Tarjih Muhammadiyah Rayakan 100 Tahun dengan Munas Tarjih XXXIII Fokus Fikih Lansia dan Kedaulatan Pangan

Majelis Tarjih Muhammadiyah Rayakan 100 Tahun dengan Munas Tarjih XXXIII Fokus Fikih Lansia dan Kedaulatan Pangan

Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-33 pada Kamis, 5 November, di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Acara tersebut diangkat dengan tema “Meneguhkan Akidah, Memperindah Akhlak, Menguatkan Ibadah, dan Memberdayakan Umat untuk Peradaban Berkemajuan” sebagai bagian dari perayaan satu abad Majelis Tarjih.

Munas menitikberatkan pada lima topik utama: fikih bagi lanjut usia, fikih kedaulatan pangan, Risalah Akidah Islam Muhammadiyah, Risalah Akhlak Praktis, serta pengembangan tuntunan ibadah yang terkait dengan persoalan tatswib.

Harapan dan Arahan Ketua Umum

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyatakan harapannya agar diskusi para ulama tarjih dari seluruh daerah berlangsung secara mendalam dan komprehensif, sehingga hasilnya dapat memberi manfaat luas bagi bangsa dan kemanusiaan.

“Ini merupakan manifestasi Islam yang berkemajuan,” ujar Haedar.

Ia menekankan pentingnya memperhatikan kondisi sosial ekonomi kelompok lansia, khususnya masyarakat menengah ke bawah, agar kebijakan yang diusulkan tidak bersifat elitistik.

“Desain model bagi lansia harus melibatkan semua lapisan masyarakat,” tambah Haedar, yang juga dikenal sebagai pakar sosiologi.

Partisipasi Ulama dan Agenda Tambahan

Ustadi Hamzah, Ketua MTT PP Muhammadiyah, melaporkan bahwa sekitar 320 ulama tarjih akan berpartisipasi melalui berbagai komisi, dengan tujuan memberikan kontribusi pemikiran bagi umat Islam, bangsa, dan Persyarikatan Muhammadiyah.

“Semoga Munas Tarjih ke-33 menghasilkan sesuatu yang luar biasa,” ia menutup pernyataannya.

Selain pembahasan utama, Munas akan menampilkan dua seminar: satu membahas kedaulatan pangan, dan satu lagi menyoroti warisan KH Mas Mansur dalam bidang tarjih dan kebangsaan. Acara penghargaan kepada keluarga KH Mas Mansur serta napak tilas perjuangannya juga dijadwalkan.

Peran Tuan Rumah

Sukadiono, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, mengucapkan terima kasih atas kepercayaan PP Muhammadiyah menjadikan Jawa Timur tuan rumah Munas. Ia menilai dukungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sangat vital bagi kelangsungan gerakan.

Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Mundakir, menyampaikan kesiapan kampus dalam menyediakan fasilitas transportasi, akomodasi, dan layanan lainnya bagi para peserta, mengibaratkan peran tuan rumah sebagai wujud filosofi Jawa yang mengutamakan keramahan kepada tamu.

Dengan agenda yang padat dan partisipasi luas, Munas Tarjih XXXIII diharapkan menghasilkan rekomendasi fikih yang relevan dengan tantangan zaman dan kebutuhan masyarakat.


📌 Sumber Berita: Artikel ini disadur dan diolah dari muhammadiyah.or.id